Kamis, 29 September 2011

Saya Hanya Tukang Jaga Warnet

Beberapa hari yang lalu saya mendapat telpon dari seseorang. Terdengar nada bicara yang sangat familiar di telinga saya. Ya..orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Santoso. Bekas bos saya ketika saya bekerja di warnet dulu dan percakapan kami kurang lebih seperti ini..

P.Santoso : Apa kabar valen?..lagi sibuk apa sekarang?..
Saya : Baik pak..Saya lagi di kantor ini pak..gimana kabar Pak San & warnet??..
P.Santoso : Saya Baik-baik. Tapi warnet lagi butuh tenaga ini..Aku boleh minta bantuan,cariin orang gak?..
Saya : Lho, pongpong (nama teman saya) emang sudah keluar pak??..
P.Santoso : iya, sekarang rada ribet saya ngurusnya, warnet juga mulai sepi.
Saya : oww..ya besok kalau saya ada kenalan yang pengen kerja, saya suruh hubungi bapak langsung.
P.Santoso : oke valen, makasih ya..maaf merepotkan..sukses buat kamu.
Saya : iya pak trima kasih.


Percakapan singkat yang mengingatkan saya pada sebuah warnet kecil di samping Java Mall. Sekitar pertengahan tahun 2006 saya ditawari oleh seorang teman dekat untuk bekerja sebagai OP warnet. Kebetulan waktu itu saya memang lagi mencari pekerjaan sampingan. Akhirnya saya mencoba melamar ke tempat tersebut dan diterima sebagai OP pengganti. Jam kerja saya waktu itu masih tidak tentu, karena saya bekerja jika ada salah satu OP berhalangan masuk. Setelah kira-kira 6 bulan jadi pegawai tidak tetap, saya akhirnya diangkat jadi pegawai tetap di situ. Waktu itu tanggungjawab saya hanya sebagai Operator saja. Gak berapa lama berselang, teman saya (yang bertanggungjawab penuh) pun akhirnya keluar. Bos saya pun menunjuk saya untuk menggantikan posisinya. Awalnya ada rasa ragu karena saya harus bertanggungjawab atas warnet tersebut, dari masalah legal, perekrutan pegawai, administrasi warnet, dan juga menyangkut masalah teknis. Namun toh ya akhirnya saya terima juga tanggungjawab tersebut hingga kurang lebih 4 tahun saya bekerja di situ.

Pekerjaan operator warnet memang sering dipandang sebelah mata bagi banyak orang. Saya pun mengalaminya sendiri. Bagaimana tidak, menjadi operator warnet hanya membutuhkan syarat bisa browsing dan memahami masalah jejaring sosial seperti facebook, twitter, email, dsb. Gak perlu ijasah sarjana, gak perlu psikotes gambar2 atau menghitung deret angka kraeplin, asalkan bisa internetan sudah memenuhi syarat untuk menjadi Operator. Gak heran pekerjaan tersebut dipandang sebelah mata, dan menurut saya sah-sah saja orang-orang untuk menilai seperti itu.

Saya pada waktu itu juga gak terlalu memikirkan pendapat seperti itu... yang terpenting, saya bisa cari uang disitu dengan HALAL. Memang penghasilan sebagai operator warnet tidak seberapa dibanding pekerjaan yang lain, bahkan mungkin pendapatan para OP lebih kecil daripada polisi cepek (kalo dihitung harian). Bahkan dari segi gengsi, walaupun mungkin pendapatan OP warnet sendiri sama dengan orang bagian admin di kantoran, tetap saja ada yang memandang pekerjaan OP gak lebih baik dari OB. Apapun stigma tersebut, saya tetap bersyukur pernah merasakan bekerja sebagai OP warnet. Dengan gaji yang gak seberapa waktu itu, saya sudah lepas dari uang saku orang tua. Saya masih bisa beli pulsa sendiri. Saya masih mampu membeli kado & traktir makan pacar saya waktu itu (walaupun gak sering). Saya masih bisa nabung untuk tour ke beberapa kota seperti solo, jogja, jepara. Dan juga saya masih bisa menabung untuk studi saya. Saya lebih mensyukuri hal-hal tersebut daripada sekedar memikirkan pendapat orang tadi.

Banyak juga ilmu yang saya dapatkan waktu dulu bekerja menjadi OP. Satu-satunya kelebihan OP daripada pekerjaan lain adalah kita bisa seharian penuh browsing internet sepuasnya dan gratis. Pernah juga saya mendengar ada anekdot seperti ini : pekerjaan paling enak di dunia adalah OP warnet, karena bisa internetan gratis dan dibayar :)). Kita tau internet sendiri adalah jendela dunia. Kita bisa mendapatkan informasi apa saja hanya mengakses lewat search engine dan mengetikkan suatu kata kunci di situ...dan jreng.. sebuah gudang pengetahuan muncul di hadapan anda. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Jadi OP juga mengharuskan kita untuk selalu belajar,baik masalah pada software / hardware komputer maupun hal-hal yg baru di dunia maya. Bagaimana mungkin bila ada customer bertanya lalu OPnya cuma bengong gak tahu, jelas hal itu akan mengecewakan customer kita. Yang  jelas dulu waktu saya menjadi OP, prinsip saya, paling tidak saya harus lebih tahu dari customer saya.Dari warnet itu pula saya banyak mendapat teman-teman baru dan bahkan masih dekat sampai sekarang. Seperti mantan pelanggan tetap saya Nukkie, dari dia masih berseragam SMP sampe sekarang kuliah, kita masih berteman baik. Lalu ada juga salah satu penyiar,MC kondang,pengusaha sukses,dan motivator dari semarang :)),  Mas Reza yang saya kenal juga waktu saya bekerja di warnet tsb , dan masih banyak lagi teman2 yang lainnya.

Intinya buat temen-temen yang mungkin berprofesi sebagai OP warnet (dan kebetulan baca), gak perlu merasa minder selama pekerjaan kalian itu BAIK. Kalian tidak maling kok, kalian tidak korupsi uang rakyat, kalian bukan pengemis. Manfaatkan betul privilege kalian sebagai OP. Cari ilmu sebanyak-banyaknya lewat internet. Karena berhubungan langsung dengan customer, dekatlah dengan mereka..karena siapa tahu mereka adalah link kalian menuju pekerjaan yang lebih besar. Pekerjaan saya yang sekarang pun tidak lepas dari profesi saya yang lalu, masih berkutat dengan dunia komputer, software, hardware, dan jaringan internet. Dan apa yang saya dapatkan selama 4 tahun di warnet tersebut masih berguna sampai sekarang ini.

Teman..apapun pekerjaan kalian, selama pekerjaan itu halal dan baik, tekuni dan syukuri. Siapa tahu pekerjaan tersebut adalah pondasi kita untuk menuju pekerjaan yang lebih besar. Asalkan mau berkembang pasti Tuhan akan memberi jalan. Dan saya sendiri tidak pernah malu untuk mengatakan bahwa dulunya saya hanya tukang jaga warnet.

Salam..  :)

Senin, 26 September 2011

Menjadi Diri Sendiri

What if I say I'm not like the others?
(Keep you in the dark)
What if I say I'm not just another one of your plays?
(You know they all... pretend)
You're the pretender
What if I say that I'll never surrender?


Lirik di atas adalah penggalan lagu dari Foo Fighters yang berjudul The Pretender. Yapp...seperti judul lagu tersebut, cukup banyak orang yang ingin menjadi seperti pribadi orang lain...termasuk juga saya.. :)

"wah aku pengen bergaya kaya Irfan Bachdim, biar digilai cewek-cewek.."
"wah aku pengen seperti Syahrini, biar terkenal..kan alhamdulilah yah.."
"wah aku pengen seperti Dian Sastro, biar terlihat sempurna di mata cowok-cowok."

dan lain-lain...

Sebenernya manusiawi sih dan sah-sah saja..

Saya cuman mau berbagi cerita tentang bagaimana rasanya menjadi orang lain itu dan dalam hal ini saya mencontohkan ke diri sendiri.
Pada saat tertentu, Saya ingin sekali menjadi seperti seorang kawan saya. Tiap permasalahan ditanggapi dengan "elegan". Mau disakiti atau dihina seperti apa juga dia lebih memakai pikirannya saja. Seolah-olah hanya mampir ke pikirannya lalu masa bodoh dengan hal tersebut.  Saya pikir hal tersebut bisa saya tiru,syukur-syukur saya juga bisa menjadi orang yang cuek seperti dia.

Keinginan saya tersebut secara tidak langsung telah mengaburkan dan membingungkan saya sendiri. Terlalu banyak imitasi yang saya gunakan sehingga saya tidak tahu apa yg sebenernya saya mau dan inginkan karena terpaku dengan image kawan saya tadi. Hingga pada suatu saat, saya melakukan sebuah hal bodoh karena tidak berani menjadi diri sendiri.

Jujur, sebenarnya sangat menyiksa menjadi orang lain itu. Malah kadang kita terlalu memaksa diri kita agar dapat menjadi orang lain tsb. Apalagi kalau pada akhirnya cara yang digunakan orang lain tersebut (sebenarnya) bertentangan dengan pribadi kita. Ada perasaan tidak nyaman karena hal tersebut. Lain halnya kalau kita menjadikan orang lain tersebut sebagai inspirasi / motivator terhadap diri sendiri.

Berusaha menjadi orang lain hanya membuat kita gagal untuk menjadi yang terbaik menurut versi diri sendiri. Kita sebenarnya punya cara tersendiri dalam menyikapi / memandang sesuatu. Entah menurut orang lain cara kita itu aneh, yang terpenting itu yang terbaik buat kita.

Saya berpikir, kalo bisa jadi yang terbaik menurut versi diri sendiri lalu buat apa menjadi orang lain??..Menjadi diri sendiri juga melatih kita untuk bersikap jujur, dan sejauh yang saya tahu kejujuran itu baik adanya..dan sekarang pun saya masih belajar untuk lebih berani menjadi diri sendiri.
The Best of ourselves is always good enough for this life.



"God gave you shoes to fit you..so put em on and wear em.."

Jumat, 23 September 2011

Are You In Love With Someone??..

Ketika kamu sedang bersama dengan seseorang, kamu berpura-pura mengabaikan orang itu. Tapi ketika dia tidak ada, kamu mungkin melihat sekitar untuk mencarinya. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta..

Meskipun ada orang lain yang selalu membuatmu tertawa, mata dan perhatianmu mungkin hanya untuk seseorang. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Jika kamu jauh lebih bersemangat untuk satu pesan singkat dari seseorang daripada banyak pesan yg dikirimkan orang lain. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu tidak bisa menghapus semua pesan yang ada di inbox hanya karena satu pesan dari seseorang. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu mempunyai 2 tiket untuk menonton bioskop, dan anda tidak ragu memikirkan seseorang yg spesial. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Kamu terus berkata pada diri sendiri " dia hanyalah seorang teman.." tetapi kamu tidak bisa menghindari daya tarik khusus orang itu. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu membaca tulisan ini, jika seseorang muncul dalam pikiranmu...maka kamu sedang jatuh cinta dengan orang itu. :)





Tulisan lama yang saya temukan lagi di inbox email. Tulisan ini pula yang meyakinkan perasaan saya dulu terhadap seseorang.. :)

Social Icons

Featured Posts