Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

PSIS : Podo Semarang'e Isih Sedulur

Sebuah mention dari seorang teman twitter saya, kebetulan mas vian adalah "sesepuh" dari Pasoepati (suporter Persis Solo) yang besar di kota Semarang. Antara jengkel dan bosan saya membaca berita tersebut. Jengkel karena sesama suporter semarang yang notabene mendukung tim yang sama malah saling menyerang bahkan sampai ada korban jiwa. Bosan karena hampir tiap musim kompetisi selalu ada kejadian seperti ini. Saya memang bukan termasuk anggota salah satu kelompok suporter tersebut. Tapi tetap saja sebagai orang yang sama-sama mencintai PSIS Semarang, hati saya cukup nyesek mendengar berita itu. Sudah bukan rahasia umum kalau Panser Biru dan Snex memang jarang sekali akur. Jalur damai yang berkali-kali dilakukan oleh pihak kepolisian maupun manajemen PSIS sendiri seolah-olah hanya formalitas belaka. Terkadang hal ini yang membuat saya malas datang ke stadion.

Tapi tidak selalu kedua kubu ini bersebrangan. Salah satu contohnya pada saat tour PSIS ke Solo medio Februari 2010 lalu. Tepatnya tanggal 14 Februari 2010, PSIS bertandang ke Manahan untuk menghadapi Persis Solo. Kebetulan saya juga ikut hadir di tour tandang tersebut, walaupun memisahkan diri dari teman-teman Panser & Snex. Di Tour tersebut mungkin untuk yang pertama kalinya baik Panser Biru & Snex dijadikan satu tribun ( biasanya dipisah ). Entah memang sengaja dikondisikan oleh pihak panpel atau bagaimana, tapi justru hal tersebut menyatukan kedua belah pihak. Mereka bisa bernyanyi bersama, saya yang waktu itu duduk di tengah-tengah pendukung Persis Solo sampai merinding. Merinding bukan karena di sekitar saya adalah suporter tim lawan, namun untuk pertama kalinya saya mendengar mereka bernyanyi " Panser - Snex kita saudara, ****** *** dibunuh saja.. " ( maaf disensor :p ). Kebetulan sambutan dari Pasoepati juga luar biasa. Mungkin bisa dibilang Pasoepati lah yang menjadi mediator waktu itu. Pertandingan berlangsung sangat kondusif, walaupun tim tuan rumah dibantai PSIS 0 - 3 , tetapi hal yang paling menarik saat itu adalah bersatunya Panser Biru - Snex dan pasoepati. Tren positif tersebut pun berlanjut sampai pertandingan-pertandingan berikutnya. Termasuk saat PSIS bertandang ke magelang. Lagi-lagi Panser - Snex dijadikan satu tribun dan saya membaur diantara mereka. 

Rindu suasana ini. Panser Biru - Snex & Pasoepati

Namun entah kenapa hal tersebut tidak berlangsung untuk waktu yang sangat lama. Kurang tau persisnya kapan, kembali kedua pihak ini berseteru kembali. Dimulai dengan saling provokasi di dalam stadion, sampai merembet ke sweeping atribut masing-masing kelompok di luar stadion setelah pertandingan. Parahnya hal tersebut terjadi sampai sekarang, dan akhirnya hari sabtu kemarin terjadi bentrokan yang mengakibatkan tewasnya Ofik. Saya bener-bener rindu suasana damai yang dulu. Datang ke stadion bisa merasa tenang tanpa takut ada tawuran antar suporter sekota. Melihat bagaimana kreatifnya Panser Biru dan semangat Militannya Snex yang menjadi trademark mereka. Terlepas dari kejadian kemaren, saya gak mau maido dengan menuduh ini salah si A atau salah si B. Biarkan pihak berwajib yang menyelesaikan kasus tersebut. Harapannya semoga ada perubahan ke arah yang lebih baik setelah kejadian ini, khususnya di grassroot. Karena kebanyakan perseteruan ini melibatkan suporter-suporter arus bawah. Semoga Ofik adalah korban terakhir dari perseteruan ini.

Semoga arwahmu damai disana kawan.
Damailah suporter Semarang. Selalu ingat slogan yang diciptakan mas Tukul Arwana. 
PSIS : Podo Semarang'e Isih Sedulur.



pecinta PSIS Semarang.

Kamis, 01 Desember 2011

Perjalanan Spiritual Saya ke GBK ( bagian 2 )

Petang itu langit Semarang agak mendung, saya berangkat menuju stasiun Poncol sekitar pukul 18.30 WIB. Sesampainya di sana, sudah terlihat K.A Tawang Jaya di jalur 3 yang siap mengantarkan saya ke ibukota. Perasaan saya begitu menggebu-gebu, sudah tidak sabar ingin segera sampai ke sana. Tepat pukul 19.00 WIB mulai bergeraklah kereta meninggalkan stasiun . Alasan saya menggunakan kereta ekonomi, selain harganya yg sangat terjangkau ( cuma Rp. 33.500,- ) sekarang tiket-nya juga terbatas untuk penumpang yang duduk saja. Kalau dulu sering dijumpai penumpang yang berdiri, sekarang kereta ekonomi hanya melayani tiket duduk saja. Ya memang dari segi kenyamanan masih dibawah kereta eksekutif maupun bisnis. Cuman dari segi biaya relatif bisa menghemat kantong. Dari segi waktu pun, kereta ekonomi  juga cenderung tepat, baik berangkat maupun sampai ke tempat tujuan.

Waktu kira-kira menunjukkan pukul 02.45 WIB, kereta Tawang Jaya memasuki stasiun Pasar Senen Jakarta. Karena saya baru janjian ketemu dengan teman sekitar jam 9, maka saya putuskan untuk tidur dulu di stasiun. Mulailah saya hunting tempat-tempat yang sekiranya nyaman untuk beristirahat. Sayangnya semua tempat duduk di ruang tunggu stasiun full boked oleh para penumpang yang juga menunggu sampai matahari terbit. Apa boleh bikin, terpaksa saya mengambil satu sudut ruangan stasiun, menggelar alas berupa koran, dan mulai merebahkan badan saya. Sebenernya sudah bukan hal baru buat saya tidur di emper stasiun seperti ini.  Pengalaman- pengalaman unik seperti ini malah bisa saya ceritakan ke anak cucu saya kelak. Kalau sudah capek, mau tidur dimana saja asal bisa meluruskan badan akan terasa nyenyak sekali tidurnya. Sekitar pukul 6 saya terbangun, kemudian beranjak ke toilet stasiun untuk mandi. Tadinya saya malas untuk mandi, tapi karena harus mengikuti misa di gereja, mau tidak mau saya harus bersih-bersih diri dulu. Selesai mandi saya mencari tempat yang bisa untuk sarapan dan nunut nge-charge HP. Karena masih pagi sekali, belum ada warung yang buka di stasiun,dan akhirnya pilihan saya jatuh ke gerai donat yang ada di sekitar stasiun.

Setelah perut terisi oleh 2 potong donat, dan mata sudah terganjal secangkir coffee latte, berangkatlah saya menuju Gereja Katedral. Ada baiknya ibadah vertikal terpenuhi dahulu sebelum berangkat ibadah yg horisontal. Tiba disana saya bertemu salah satu sahabat saya Setyawan, dialah bapak asuh saya selama di Jakarta hahahaha.. Misa selesai tepat pukul 10.00,dan kamipun langsung beranjak ke sebuah mall di kawasan Blok M untuk bertemu 2 teman kami yang lain. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya datanglah kedua teman saya Anggun dan Ajeng. Moment menonton timnas kali ini benar2 kami gunakan untuk temu kangen dan mengompas Anggun yang belum lama merayakan ulang tahunnya hahaha. Tepat pukul 15:30 kami bergegas menuju ke GBK, hati saya tambah berdebar-debar serasa mau bertemu pacar. Suasana jalan begitu padat saat memasuki bilangan senayan. Terlihat banyak sekali manusia beratribut merah, baik yang jalan menggerombol maupun yang berkendara, bagaikan sebuah karnaval. Setelah sempat muter-muter bingung mencari pintu masuk dan tempat parkir, tibalah kami di Kuil Sepakbola terbesar di Indonesia itu. Saya pun bergegas mengganti pakaian dengan jersey kesayangan saya...jersey INDONESIA!. Akhirnya jersey itu saya pakai di sini...setengah cita-cita saya sudah terkabul. 

Bagimu negeri jiwa raga kami.

Setelah semua siap dengan atribut masing-masing, sekarang saatnya mencari tiket pertandingan. Kami memutuskan membeli dari FJB kaskus agar lebih mudah, ( sejujurnya karena kami semua malas mengantri ). Walaupun lebih mahal, yang terpenting kami bisa mendapatkan kepastian tiket. Mulailah kami mencari si penjual. Karena sama-sama kurang tahu daerah senayan, kami sempat beberapa kali kebingungan mencari jalan menuju Istora Senayan, tempat COD dengan si penjual. Di saat mencari , tanpa sengaja kami  bertemu dengan kawan kami Heri , yang juga sudah janjian untuk nobar. Setelah hampir mengitari seluruh area stadion, Tidak berapa lama kemudian bertemu juga dengan si penjual tiket, dan lucunya si penjual pun mengaku dari Semarang..hahaha. Jauh-jauh ke Jakarta ketemunya juga orang-orang se-kampung halaman. Tiket kategori 3 sudah di tangan, jersey sudah dipakai, tapi saya merasa masih ada yang kurang. Ya...sebuah SYAL INDONESIA.  Ada barang yang saya lupa bawa waktu berangkat ke Jakarta yaitu bendera Indonesia. Saya pikir kurang afdol bernyanyi Indonesia Raya tanpa membawa atribut seperti syal ato bendera. Pada akhirnya saya putuskan untuk membeli sebuah syal Indonesia di area sekitar Stadion. Setelah semua keperluan ibadah terpenuhi maka siaplah kami memasuki Katedral Sepakbola itu. Seperti halnya orang ndeso yang belum pernah datang ke tempat baru, setiap berjalan beberapa meter kami sempatkan berpose untuk sekedar mengabadikan moment seru ini. Sampai pada akhirnya, sampailah kami di pintu masuk GBK.

Para umat berfoto di depan Katedral Sepakbola
Tiket bersejarah

Begitu masuk GBK, perasaan saya bagaikan anak kecil yang dibelikan mainan baru oleh orang tuanya. Senang..terharu..takjub..bersukur. Andai saya tidak bisa menahan rasa senang yang berlebihan tersebut, mungkin saya sudah berteriak-teriak sambil berlarian di dalam stadion..hahaha. Mata saya nanar memandang ke sekeliling bangunan indah tersebut. Saya begitu bangga Indonesia mempunyai Presiden seperti Soekarno yang membangun tempat semegah GBK. Sebagai informasi, GBK sendiri termasuk salah satu dari 15 stadion terbesar di dunia, dan baru kali ini saya masuk ke stadion yang berkapasitas sekitar 88 ribu tempat duduk itu. Kami mulai mencari tempat yang sekiranya paling nyaman untuk menonton. Seperti yang sudah saya utarakan di postingan sebelumnya, dari segi sudut pandang ke lapangan, tribun belakang gawang agak kurang begitu representatif. Akan tetapi tribun belakang gawang adalah tempat paling magis dalam stadion, dan atmosfer itu yang saya cari.

Suasana beberapa jam sebelum pertandingan
Teteeeeeeepp narsoo!

Setelah dikomandoi oleh Setyawan akhirnya kami duduk tepat sejajar di belakang gawang. Saat itu sedang berlangsung partai antara Malaysia vs Kamboja. Kapasitas stadion sudah 50 persen terisi, terlebih di tribun kami ( tribun utara ) sudah hampir terisi penuh oleh suporter.  Diantara ribuan suporter Indonesia, nampak juga beberapa ekspatriat yang menonton, lengkap dengan atribut Indonesia-nya. Pertandingan masih sekitar 2 jam lagi, tapi suasana di dalam stadion sudah begitu gemuruh. Suporter kita waktu itu meneror habis kesebelasan Malaysia yang sedang bertanding. Bahkan beberapa suporter Malaysia yang hanya segelintir di tribun VIP Barat pun tak luput dari teror suporter Indonesia. Untung bukan teror fisik yang mereka terima, dan setelah pertandingan Malaysia vs Kamboja usai, para suporter harimau Malaya pun langsung ngibrit keluar stadion karena sadar di sekitar mereka terdapat ribuan suporter garuda yang sudah mulai memadati tribun. Semakin petang stadion semakin penuh, suporter juga mulai menyanyikan chant-chant disertai tabuhan snare drums & bass drums. Tribun tepat di atas saya duduk ( kategori 4 ) terdapat beberapa kelompok suporter dari Indonesia. Ada Slemania Batavia, The Jak, Aremania,dan Pasoepati, terlihat dari banner yang mereka bawa. Dan yang membuat saya senang, tanpa 1 dirigen master pun, kami bisa bernyanyi bersama. Entah siapa yang memulai dulu, tanpa dikomando selalu diikuti suporter 1 tribun, bahkan 1 stadion.  Sampai pada akhirnya masuklah timnas U23 ke lapangan untuk pemanasan. Para suporter semakin keras berteriak IN-DO-NE-SIA!!! dan diiringi tepuk tangan. Kaki saya mulai gemetar...dan semakin gemetar ketika bendera fair play dan 2 bendera negara tim yang bertanding dibawa masuk ke lapangan oleh para anak gawang. Tanda Indonesia Raya sebentar lagi akan berkumandang.


Sesaat sebelum Indonesia Raya berkumandang
Kedua tim sudah memasuki lapangan, para wasit , asisten wasit, pengawas pertandingan juga sudah bersiap di posnya masing-masing. Seperti biasa, dalam partai tim nasional selalu diperdengarkan lagu kebangsaan masing-masing negara. Kali ini yang menjadi giliran pertama adalah lagu kebangsaan negara Thailand. Saya mulai berdiri, sedikit menenangkan hati saya yang begitu galau. Teman saya Setyawan bahkan sudah nyindir ke saya sebelum lagu kebangsaan diperdengarkan "Ojo nangis nek pas nyanyi Indonesia Raya." ( Jangan nangis waktu nyanyi Indonesia raya..).  Saya pun hanya membalas dengan senyuman. Lagu kebangsaan Thailand mulai terdengar, dan kebiasaan buruk suporter kita pun masih saja terulang..menghina lagu kebangsaan negara lain. Saya melihat sendiri bagaimana suporter di sekitar saya berteriak "boooo" waktu lagu kebangsaan Thailand dinyanyikan. Saya juga tak punya kuasa apa-apa untuk melarang mereka, saya cuma bisa diam..diam karena jantung saya yang semakin deg-degan Sampailah pada hal yang paling sakral. Puncak dari cita-cita saya datang kemari...bernyanyi Indonesia Raya. Saya mencoba bersikap tenang, menarik nafas dalam-dalam. Saya berdiri diatas bangku penonton, syal Indonesia saya angkat tinggi-tinggi. Saya lihat semua suporter melakukan hal serupa, ada yang mengangkat syal, ada yang mengangkat bendera mereka, ada yang bersikap hormat, dan memegang lambang garuda di jersey mereka. Seluruh tubuh saya mulai gemetar..dan lagu kebangsaan Indonesia raya pun mulai berkumandang.

Saya memejamkan mata dan mulai bernyanyi..."Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku..disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku.." Saya bernyanyi sekuat tenaga, benar-benar melepaskan seluruh emosi saya. Belum sampai pada setengah lagu suara saya mulai habis, tapi saya terus bernyanyi dan bernyanyi. Mata saya mulai berkaca-kaca..seluruh tubuh saya gemetar dan merinding hebat mendengar koor dari seluruh suporter. Seumur hidup baru kali ini saya menyanyikan Indonesia Raya dengan begitu emosional. Saya benar-benar merasa "Indonesia banget" saat itu. Tidak heran banyak cerita yang mengatakan menyanyikan lagu Indonesia Raya di GBK  bersama puluhan ribu orang akan terasa sangat menggetarkan. Sampai pada akhir lagu, saya melihat ke langit GBK yang mendung itu..berterimakasih pada-Nya diberi kesempatan menikmati moment ini. Moment yang tidak akan terlupa. Moment yang selalu ingin saya ulangi. Moment yang tidak saya dapatkan kala menjadi suporter layar kaca. Mungkin akan ada yang berpikir saya terlalu berlebihan ( baca : lebay ), saya memakluminya. Dan saya mengerti anda tidak akan tahu perasaan itu sampai anda sendiri yang merasakannya

Kick off pun dimulai. Pertandingan berlangsung seru dan cenderung keras, terbukti 2 kartu merah keluar dari wasit asal Korea waktu itu. Di tribun atas para kelompok suporter tak henti bernyanyi, sesekali mereka membuat mexican wave yang tersohor itu. Sampai pada gol pertama yang dicetak Titus Bonai, GBK bergetar, saya bahkan bersorak sampai kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Meski sempat disamakan oleh Thailand, Timnas U23 kita akhirnya menang dengan skor 3-1 dan memastikan diri untuk lolos ke babak semifinal. Pencapaian yang bagus, mengingat 2 tahun lalu tim U23 kita hancur dan jadi juru kunci grup. 

GBK gempa gara-gara Titus Bonai cs.
Goodbye Thailand
IN-DO-NE-SIA !!!
 
Setelah 90 menit berakhir, saya dan teman-teman masih belum beranjak dari stadion. Lagi-lagi naluri ndeso kami muncul : foto-foto, sayang kalo melewatkan sesi ini.Walaupun badan ini capek karena harus menempuh perjalanan hampir 8 jam dan menjadi gembel di stasiun, namun semua terbayar lunas dan melebihi ekspektasi saya sebelumnya. Tercapai sudah cita-cita saya malam itu. Sungguh malam yang sempurna di GBK. 
Sebuah perjalanan spiritual yang tidak akan terlupakan.
Terbanglah terus Garuda..





-Fin-
.

All photos are taken by Setyawan Eko Nugroho

Kamis, 17 November 2011

Perjalanan Spiritual Saya ke GBK ( bagian 1 )

Pagi itu tanggal 1 November 2011. Seperti biasa sebelum memulai bekerja, saya selalu mantengin timeline twitter, sambil nyampah disitu. Kemudian  ada hal menarik yang muncul di timeline saya.... jadwal laga timnas sepakbola Sea Games. Awalnya saya mengira cabang sepakbola akan dimainkan di stadion Jakabaring Palembang, ternyata pertandingan dilaksanakan di Gelora Bung Karno Senayan. Bak gayung bersambut, ada satu pertandingan yang dimainkan pada hari minggu yaitu Indonesia vs Singapura ( 13/11 ). Memang...suporter daerah macam saya ini hanya bisa menonton pertandingan pada hari libur saja karena terkendala oleh pekerjaan. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi sahabat saya di Jakarta dan bilang saya akan datang menonton partai tersebut.

Sebenarnya sudah jauh-jauh hari saya bercita-cita menonton langsung timnas Indonesia berlaga di GBK. Namun karena beberapa kendala, rencana tersebut selalu batal. Ketika berita di twitter tadi muncul, saya berkata pada diri sendiri..."saya harus berangkat!..bagaimanapun caranya."
Gelora Bung Karno bagi saya adalah sebuah tempat suci. Ya....sebuah "tempat ibadah" bagi kami para suporter sepakbola. Kalau boleh saya analogikan menurut kepercayaan saya.GBK seperti Gereja Basilika Santo Petrus di Vatikan. Dimana banyak umat Katolik di seluruh dunia ingin berkunjung ke sana untuk berziarah atau mengikuti misa hari besar seperti Paskah atau Natal. Sama halnya dengan GBK, banyak suporter ( khususnya dari luar daerah Jakarta ) yang ingin menyaksikan langsung timnas Indonesia bertanding di tempat itu. Saya sering mendengar dari teman-teman yang pernah ke sana, bagaimana atmosfernya yang begitu luar biasa. Bergabung dengan sekitar 80 ribu orang untuk mendukung para pahlawan lapangan hijau negara kita. Satu hal lagi yg membuat saya begitu ingin ke sana...bernyanyi lagu Indonesia Raya bersama dengan para pemain, pelatih, official, dan tentunya seluruh suporter yang hadir. Dan kali ini saya beruntung....akhirnya berkesempatan merasakan atmosfer tersebut.

Beberapa hari setelah itu, ada berita mengejutkan lagi. Ternyata dari pihak panitia INASOC mengajukan jadwal pertandingan sepakbola. Saya sempat khawatir, pertandingan yang tadinya jatuh hari minggu tadi akan bergeser ke hari kerja. Dan ternyata benar, partai Indonesia vs Singapura yang tadinya bermain pada hari minggu, diajukan pada hari Jumat. Tapi dengan diajukannya jadwal tersebut, malah menjadi berkah tersendiri bagi saya. Kenapa?..karena partai Indonesia vs Thailand yang sekiranya dimainkan pada hari selasa digeser menjadi hari Minggu!. Thailand merupakan salah satu musuh bebuyutan Indonesia ( selain Malaysia tentunya ). Saya ingat betul waktu  Sea Games tahun 1997 di Jakarta, timnas Indonesia yang kala itu masih diperkuat generasi emas seperti Kurniawan DY, Aji Santoso, Anang Ma'ruf, Uston Nawawi dkk harus kalah di final dari Thailand (saat itu dilatih Peter Withe) lewat adu pinalti. Padahal dari babak penyisihan timnas Indonesia begitu superior, apalagi waktu membantai Malaysia 3-0. Sekarang mungkin peta kekuatan sepakbola di Asean lebih merata, namun Thailand tetaplah Thailand. Rajanya Asia Tenggara. Dan kita ketahui belakangan ini, pertandingan Indonesia vs Thailand kemarin adalah penentuan lolos / tidaknya timnas ke Semifinal. Saya beruntung lagi !.

Mulailah saya berkoordinasi dengan sahabat-sahabat saya di Jakarta. Kami merencanakan gathering sambil nobar. Karena kami malas untuk mengantri tiket, jadilah saya memesan tiket pertandingan lewat kaskus. Walaupun agak mahal & ribet, namun paling tidak ada kepastian bahwa kami akan mendapatkan tiket pertandingan. Dipilihlah tiket kategori 3 ( tribun belakang gawang). Selain alasan tiket yang cenderung terjangkau ( harga Rp. 50.000 ), tribun di belakang gawang konon mempunyai atmosfer yang paling hebat. Silakan disimak baik di sepakbola dalam negeri maupun di luar, karena  disitulah biasanya berkumpul kelompok suporter yang paling fanatik. Walaupun mungkin dilihat dari sudut pandang penonton ke lapangan, tribun tersebut agak kurang nyaman..who cares??..yang saya cari adalah atmosfer dari pertandingan tersebut. Kalaupun pengen nonton enak, gak perlu saya jauh-jauh ke GBK, cukup jadi suporter layar kaca saja. Tiket kereta Semarang - Jakarta pp beres, akomodasi beres, tiket pertandingan beres...dan siaplah saya melakukan perjalanan spiritual sebagai suporter Indonesia ke Gelora Bung Karno..


- bersambung -


Peziarah Sepakbola



Social Icons

Featured Posts