Gunung Ungaran (2050 mdpl) dilihat dari ketinggiannya memang masih kalah dengan "saudara-saudara" yang ada di sekitarnya seperti Merbabu, Sindoro maupun Sumbing. Tapi bukan berarti mudah untuk di daki. Pertengahan November lalu, tepatnya tanggal 17 November 2012 saya dan teman-teman Mahapala PRMKFT Undip merasakan bagaimana "nikmatnya" mendaki gunung yang ketinggiannya masuk kategori menengah ini. Pendakian kali ini beranggotakan 15 orang. Saya, Tio, Vincent, Yohit, Christoper, Henri, Musanta, Achan, Yuke, Danang, Geraldo, Feto, ditambah 3 personil cewek Ika, Gori, dan Mardi. Kami berencana menggunakan jalur pendakian dari Medini. Jalur medini ini terkenal dengan kebun teh-nya.
![]() |
| Para Pendaki |
Setelah melakukan briefing sebentar, berangkatlah kami dari semarang pukul 15.00 WIB. Rombongan dibagi menjadi 2 kloter karena salah satu teman kami ( sebut saja Gori ) sedang dalam perjalanan dari Jogja. Henri, Christoper, dan Gori berangkat kloter kedua dan sisanya berangkat kloter pertama. Perjalanan Semarang - Desa Medini menempuh jarak sekitar 2 jam perjalanan ( jalan nyantai ). Sekitar setengah jam perjalanan sebelum sampai ke desa Medini, kondisi jalan benar-benar memaksa motor kami untuk berjalan tidak lebih dari 30 km/jam. Kondisi jalan berbatu dan licin karena hujan yang turun siang sebelum kita berangkat, memaksa kami berjalan pelan. Tepat pukul 17.00 WIB sampailah kami di desa Medini. Hawa dingin, kabut tipis, dan perkebunan teh menyambut kedatangan kami. Desa Medini ini adalah beskem awal untuk para pendaki, walaupun sebenarnya masih ada Desa terakhir yaitu desa Promasan, yang letaknya sekitar ( kurang lebih ) 7 km dari Desa Medini. Namun melihat kondisi jalan yang buruk, kami putuskan untuk start pendakian dari desa Medini. Desa Medini berada di ketinggian sekitar 1500 mdpl, terhampar perkebunan teh yang sangat luas. Warga di sekitarnya banyak yang menyewakan rumahnya untuk jadi tempat transit para pendaki.
![]() |
| Desa Medini |
Waktu itu kami transit di rumah Bu In. Biasanya para pendaki menggunakan rumah Pak Min sebagai beskem-nya, namun kala itu rumah Pak Min sudah di "booking" oleh Mapala dari Kedokteran Unisula untuk diksar. Rencananya kami akan start summit ke puncak pada pukul 01.00 WIB. Waktu itu masih jam 22.00 WIB Beberapa dari kami mengisi waktu luang dengan ngobrol-ngobrol, minum kopi, sambil menikmati pemandangan kota semarang. Sebagian lagi memilih untuk tidur. Saya sendiri awalnya ingin tidur untuk mengumpulkan tenaga, namun pada akhirnya tidak bisa tidur juga. Saya pikir, jauh-jauh kesini sayang kalau dihabiskan waktunya untuk tidur. Bersama Tio, Christoper dan Henri, kami hanya mengobrol untuk membunuh waktu.
Tibalah waktu yang dinanti, tepat pukul 00.00 WIB kami membangunkan kawan-kawan yang sedang terlelap dalam mimpi mereka. Setelah packing singkat dan sedikit briefing dari sang kepala suku ( Tio ), mulailah perjalanan kami menuju puncak ungaran tepat pukul 01.15 WIB. Sejauh mata memandang disamping kiri kanan terhampar tanaman teh, sesekali ratusan cahaya lampu kota menampakkan diri dari balik bukit. Langit kala itu cerah sekali, kami bisa melihat hamparan bintang yang jumlahnya ribuan, dan...seperti biasa, atraksi bintang jatuh menjadi bonus bagi yang beruntung melihatnya. Hal ini yang membuat saya selalu rindu pada pendakian. Hawa dingin nan sejuk, pemandangan, dan langitnya yang indah ( tergantung cuaca juga sih ).
![]() |
| Pemandangan lampu kota |
Trek yang kami lalui adalah jalan berbatu yg sehari-hari dilewati oleh truck yang mengangkut para pemetik teh. Cukup banyak bonus-nya, tapi jauhnya minta ampun. Barulah sekitar pukul 04.00 WIB kami sampai di Desa Promasan. Desa Promasan merupakan desa terakhir yang ada di kaki gunung Ungaran. Mungkin hanya sekitar 15 rumah yg ada di sini, listrikpun katanya cuma nyala sampai jam 10 malam. Benar-benar desa yang jauh dari peradaban. Selepas dari desa Promasan, trek mulai jalan tanah dan berbukit khas gunung-gunung di Indonesia. Pukul 05.00 WIB langit mulai terang, samar-samar sang surya muncul dari awan. Sayang kami masih berada di setengah perjalanan, hanya bisa menikmati sunrise dari bukit. Langit perlahan-lahan mulai cerah, awan biru dihiasi oleh gumpalan awan yang bergerak seolah-olah mengawasi kami yang tengah berjuang menaklukkan jalur pendakian yang cukup melelahkan. Ya...seperti yang sudah saya utarakan di awal tadi, Gunung Ungaran walaupun ketinggiannya "cuma" 2050 mdpl, namun mempunyai trek pendakian yg menantang. Jalur landai, Jalur curam, jalur berbatu, tebing semua dijumpai disini, kecuali jalur berpasir. Tidak heran beberapa dari kami yang untuk pertama kalinya merasakkan naik gunung terlihat kuwalahan. Bahkan salah satu teman (sebut saja Ika) kecapekan sampai menangis. Namun dia bisa mengalahkan rasa capeknya dan melanjutkan lagi perjalanan setelah istirahat dan sarapan ( padahal nangis gara-gara kelaperan..hihihi.. ).
![]() |
| Pemandangan desa Promasan dari bukit |
Menjelang puncak beberapa kali pertanyaan : "Puncaknya dimana sih?" mulai sering terdengar hahaha. Seolah-olah mereka di- PHP sama gunung ungaran ( PHP : Pemberi Harapan Palsu ). Saya sih mending di PHP gunung daripada di-PHP gebetan *hahaha malah #surhat.. Tio yang jadi leader di depan hanya bisa bilang "15 menit lagi" dengan harapan agar semangat temen-temen nggak nglokro. Memang beberapa kali kami temui bukit tipuan,seolah-olah puncak, padahal masih ada bukit lagi dibaliknya.
![]() |
| Berkibar di Puncak |
Akhirnya sekitar pukul 07.15 WIB kami menjejakkan kaki di puncak gunung Ungaran. Setelah perjuangan berjalan sejauh 15 km selama 6 jam. Tio langsung mengeluarkan sang saka merah putih dan bendera PRMKFT UNDIP yang memang direncanakan bakal dikibarkan berdampingan di atas. Layaknya sebuah upacara, ada 3 petugas pengibar bendera ditambah lagu Indonesia Raya, Merah Putih berkibar satu tiang penuh bersama bendera PRMKFT di puncak Ungaran. Saya sendiri mendedikasikan pendakian ini untuk Mama yang sehari sebelumnya berulang-tahun dan tentu saja untuk ibu pertiwi yang sangat saya cintai ini. Cuaca di puncak sangat cerah, matahari bersinar hangat.
![]() |
| For My Mother |
Di sebelah utara terhampar pemandangan perkebunan teh, di sebelah barat sang saudara kembar Sindoro - Sumbing mengintip dari balik awan tipis. Di sebelah Timur terlihat pemandangan kota ungaran, di sebelah Selatan berdiri dengan gagah Gunung Merbabu dan Merapi nampak samar-samar di belakangnya. Karena kecapekan kami langsung tertidur dengan beralaskan tanah dan beratapkan langit biru. Setelah puas menikmati panorama dari atas dan tentu saja mengabadikan beberapa moment, kami pun bersiap untuk turun kembali. Kabut juga sudah mulai turun, pemandangan di sekitar kami sudah tidak tampak. Perjalanan turun kali ini sangat santai, seolah-olah kami belum rela beranjak dari puncak. Rasanya masih ingin memanjakan mata ini melihat betapa indah alam ciptaan-Nya.
Awan mendung mulai menggelayuti daerah promasan, kami pun bergegas mempercepat jalan kami. Saya bersama Christ dan Henri di belakang sebagai tim sapu bersih sampah agak tertinggal dengan rombongan. Sialnya kaki kanan saya mengalami kram sehingga semakin tertinggal dari yang lain. Jalan pulang kali ini kami menggunakan jalan memotong supaya cepat sampai ke desa Medini. Perlahan air hujan jatuh membasahi tanah dan tubuh kami, semakin deras, dan kabut pun semakin tebal. Ada kejadian dimana saya dan Henri terjebak di simpangan, dan kawan-kawan yang lain sudah jauh di depan. Terjebak hujan, kabut tebal, jarak pandang hanya sekitar 4 meter, dan tertinggal rombongan. Sungguh sebuah keadaan yang kurang menyenangkan. Namun dengan insting hutan-nya Henri kami pun akhirnya bertemu kembali dengan rombongan. Trek shortcut kami kali ini lebih susah dari trek waktu keberangkatan. Jalan yang sempit plus licin akibat air hujan memaksa kami berjalan pelan bahkan sampe ngesot. Beberapa kali juga sempet terpeleset akibat salah memijak batu yang berlumut. Baru kali ini mendaki dengan kondisi cuaca hujan deras. Jas hujan yang dipakai pun tak mampu menahan air untuk masuk menembus pakaian dan membasahi sekujur tubuh kami. Kaki saya semakin kaku, namun tetap saya paksakan untuk berjalan, daripada ketinggalan rombongan lagi.
![]() |
| Blue Sky Colapse |
Yang saya pikirkan waktu itu adalah cepat sampai ke beskem dan makan. Saya membayangkan hangatnya semangkok indomie kuah, dengan telur, plus aroma kaldu ayam, cukup untuk membuat saya melupakan rasa sakit yang ada di kaki. Setelah berjalan dan berjalan akhirnya nampak sebuah masjid dari kejauhan, tanda beskem sudah dekat. Saya mempercepat jalan dan akhirnya...sampai di beskem sekitar pukul 15.3 WIB.
Tanpa berpikir panjang kami memesan semangkok indomie rebus dobel plus telur dan teh panas. Kondisi cuaca yang masih hujan cukup deras, memaksa kami untuk menunda kepulangan,disamping itu tenaga kami sudah terkuras habis karena perjalanan pulang tadi. Akhirnya disepakati jam 19.30 WIB, bagaimanapun cuacanya kami pulang ke Semarang. Waktu yang cukup panjang itu saya manfaatkan untuk tidur dan memulihkan kondisi kaki. Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB, kami bergegas packing dan bersiap pulang ke Semarang. Cuaca gerimis tidak menyurutkan niat kami untuk pulang, karena esok hari kami sudah harus kembali beraktifitas. Tepat pukul 19.30 WIB kami meninggalkan desa Medini, dan baru sampai Semarang pukul 21.30 WIB. Badan rasanya sakit semua,walau begitu begitu banyak cerita yang kami dapatkan. Rasa capek mungkin akan hilang selama 2-3 hari, tapi cerita perjalanan ini akan selalu terkenang sampai esok tua. Alam memang pelarian yang paling pas untuk kabur dari kepenatan sehari-hari. Alam selalu membuat saya merasa lebih dekat dengan-Nya. Alam selalu membuat saya lebih mencintai negeri ini. Kota mungkin memberikan kebutuhan dengan segala kemewahaannya, namun alam ( gunung ) selalu memberikan keindahan melalui kesederhanaannya.
![]() |
| Mahapala PRMKFT UNDIP |










0 komentar:
Posting Komentar