Sebuah mention dari seorang teman twitter saya, kebetulan mas vian adalah "sesepuh" dari Pasoepati (suporter Persis Solo) yang besar di kota Semarang. Antara jengkel dan bosan saya membaca berita tersebut. Jengkel karena sesama suporter semarang yang notabene mendukung tim yang sama malah saling menyerang bahkan sampai ada korban jiwa. Bosan karena hampir tiap musim kompetisi selalu ada kejadian seperti ini. Saya memang bukan termasuk anggota salah satu kelompok suporter tersebut. Tapi tetap saja sebagai orang yang sama-sama mencintai PSIS Semarang, hati saya cukup nyesek mendengar berita itu. Sudah bukan rahasia umum kalau Panser Biru dan Snex memang jarang sekali akur. Jalur damai yang berkali-kali dilakukan oleh pihak kepolisian maupun manajemen PSIS sendiri seolah-olah hanya formalitas belaka. Terkadang hal ini yang membuat saya malas datang ke stadion.
Tapi tidak selalu kedua kubu ini bersebrangan. Salah satu contohnya pada saat tour PSIS ke Solo medio Februari 2010 lalu. Tepatnya tanggal 14 Februari 2010, PSIS bertandang ke Manahan untuk menghadapi Persis Solo. Kebetulan saya juga ikut hadir di tour tandang tersebut, walaupun memisahkan diri dari teman-teman Panser & Snex. Di Tour tersebut mungkin untuk yang pertama kalinya baik Panser Biru & Snex dijadikan satu tribun ( biasanya dipisah ). Entah memang sengaja dikondisikan oleh pihak panpel atau bagaimana, tapi justru hal tersebut menyatukan kedua belah pihak. Mereka bisa bernyanyi bersama, saya yang waktu itu duduk di tengah-tengah pendukung Persis Solo sampai merinding. Merinding bukan karena di sekitar saya adalah suporter tim lawan, namun untuk pertama kalinya saya mendengar mereka bernyanyi " Panser - Snex kita saudara, ****** *** dibunuh saja.. " ( maaf disensor :p ). Kebetulan sambutan dari Pasoepati juga luar biasa. Mungkin bisa dibilang Pasoepati lah yang menjadi mediator waktu itu. Pertandingan berlangsung sangat kondusif, walaupun tim tuan rumah dibantai PSIS 0 - 3 , tetapi hal yang paling menarik saat itu adalah bersatunya Panser Biru - Snex dan pasoepati. Tren positif tersebut pun berlanjut sampai pertandingan-pertandingan berikutnya. Termasuk saat PSIS bertandang ke magelang. Lagi-lagi Panser - Snex dijadikan satu tribun dan saya membaur diantara mereka.
Tapi tidak selalu kedua kubu ini bersebrangan. Salah satu contohnya pada saat tour PSIS ke Solo medio Februari 2010 lalu. Tepatnya tanggal 14 Februari 2010, PSIS bertandang ke Manahan untuk menghadapi Persis Solo. Kebetulan saya juga ikut hadir di tour tandang tersebut, walaupun memisahkan diri dari teman-teman Panser & Snex. Di Tour tersebut mungkin untuk yang pertama kalinya baik Panser Biru & Snex dijadikan satu tribun ( biasanya dipisah ). Entah memang sengaja dikondisikan oleh pihak panpel atau bagaimana, tapi justru hal tersebut menyatukan kedua belah pihak. Mereka bisa bernyanyi bersama, saya yang waktu itu duduk di tengah-tengah pendukung Persis Solo sampai merinding. Merinding bukan karena di sekitar saya adalah suporter tim lawan, namun untuk pertama kalinya saya mendengar mereka bernyanyi " Panser - Snex kita saudara, ****** *** dibunuh saja.. " ( maaf disensor :p ). Kebetulan sambutan dari Pasoepati juga luar biasa. Mungkin bisa dibilang Pasoepati lah yang menjadi mediator waktu itu. Pertandingan berlangsung sangat kondusif, walaupun tim tuan rumah dibantai PSIS 0 - 3 , tetapi hal yang paling menarik saat itu adalah bersatunya Panser Biru - Snex dan pasoepati. Tren positif tersebut pun berlanjut sampai pertandingan-pertandingan berikutnya. Termasuk saat PSIS bertandang ke magelang. Lagi-lagi Panser - Snex dijadikan satu tribun dan saya membaur diantara mereka.
![]() |
| Rindu suasana ini. Panser Biru - Snex & Pasoepati |
Namun entah kenapa hal tersebut tidak berlangsung untuk waktu yang sangat lama. Kurang tau persisnya kapan, kembali kedua pihak ini berseteru kembali. Dimulai dengan saling provokasi di dalam stadion, sampai merembet ke sweeping atribut masing-masing kelompok di luar stadion setelah pertandingan. Parahnya hal tersebut terjadi sampai sekarang, dan akhirnya hari sabtu kemarin terjadi bentrokan yang mengakibatkan tewasnya Ofik. Saya bener-bener rindu suasana damai yang dulu. Datang ke stadion bisa merasa tenang tanpa takut ada tawuran antar suporter sekota. Melihat bagaimana kreatifnya Panser Biru dan semangat Militannya Snex yang menjadi trademark mereka. Terlepas dari kejadian kemaren, saya gak mau maido dengan menuduh ini salah si A atau salah si B. Biarkan pihak berwajib yang menyelesaikan kasus tersebut. Harapannya semoga ada perubahan ke arah yang lebih baik setelah kejadian ini, khususnya di grassroot. Karena kebanyakan perseteruan ini melibatkan suporter-suporter arus bawah. Semoga Ofik adalah korban terakhir dari perseteruan ini.
Semoga arwahmu damai disana kawan.
Damailah suporter Semarang. Selalu ingat slogan yang diciptakan mas Tukul Arwana.
PSIS : Podo Semarang'e Isih Sedulur.
pecinta PSIS Semarang.



