Jumat, 16 Desember 2011

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat
Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi suram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu
Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru



Soe Hok Gie ( 17 Desember 1942 - 16 Desember 1969 )

Kamis, 01 Desember 2011

Perjalanan Spiritual Saya ke GBK ( bagian 2 )

Petang itu langit Semarang agak mendung, saya berangkat menuju stasiun Poncol sekitar pukul 18.30 WIB. Sesampainya di sana, sudah terlihat K.A Tawang Jaya di jalur 3 yang siap mengantarkan saya ke ibukota. Perasaan saya begitu menggebu-gebu, sudah tidak sabar ingin segera sampai ke sana. Tepat pukul 19.00 WIB mulai bergeraklah kereta meninggalkan stasiun . Alasan saya menggunakan kereta ekonomi, selain harganya yg sangat terjangkau ( cuma Rp. 33.500,- ) sekarang tiket-nya juga terbatas untuk penumpang yang duduk saja. Kalau dulu sering dijumpai penumpang yang berdiri, sekarang kereta ekonomi hanya melayani tiket duduk saja. Ya memang dari segi kenyamanan masih dibawah kereta eksekutif maupun bisnis. Cuman dari segi biaya relatif bisa menghemat kantong. Dari segi waktu pun, kereta ekonomi  juga cenderung tepat, baik berangkat maupun sampai ke tempat tujuan.

Waktu kira-kira menunjukkan pukul 02.45 WIB, kereta Tawang Jaya memasuki stasiun Pasar Senen Jakarta. Karena saya baru janjian ketemu dengan teman sekitar jam 9, maka saya putuskan untuk tidur dulu di stasiun. Mulailah saya hunting tempat-tempat yang sekiranya nyaman untuk beristirahat. Sayangnya semua tempat duduk di ruang tunggu stasiun full boked oleh para penumpang yang juga menunggu sampai matahari terbit. Apa boleh bikin, terpaksa saya mengambil satu sudut ruangan stasiun, menggelar alas berupa koran, dan mulai merebahkan badan saya. Sebenernya sudah bukan hal baru buat saya tidur di emper stasiun seperti ini.  Pengalaman- pengalaman unik seperti ini malah bisa saya ceritakan ke anak cucu saya kelak. Kalau sudah capek, mau tidur dimana saja asal bisa meluruskan badan akan terasa nyenyak sekali tidurnya. Sekitar pukul 6 saya terbangun, kemudian beranjak ke toilet stasiun untuk mandi. Tadinya saya malas untuk mandi, tapi karena harus mengikuti misa di gereja, mau tidak mau saya harus bersih-bersih diri dulu. Selesai mandi saya mencari tempat yang bisa untuk sarapan dan nunut nge-charge HP. Karena masih pagi sekali, belum ada warung yang buka di stasiun,dan akhirnya pilihan saya jatuh ke gerai donat yang ada di sekitar stasiun.

Setelah perut terisi oleh 2 potong donat, dan mata sudah terganjal secangkir coffee latte, berangkatlah saya menuju Gereja Katedral. Ada baiknya ibadah vertikal terpenuhi dahulu sebelum berangkat ibadah yg horisontal. Tiba disana saya bertemu salah satu sahabat saya Setyawan, dialah bapak asuh saya selama di Jakarta hahahaha.. Misa selesai tepat pukul 10.00,dan kamipun langsung beranjak ke sebuah mall di kawasan Blok M untuk bertemu 2 teman kami yang lain. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya datanglah kedua teman saya Anggun dan Ajeng. Moment menonton timnas kali ini benar2 kami gunakan untuk temu kangen dan mengompas Anggun yang belum lama merayakan ulang tahunnya hahaha. Tepat pukul 15:30 kami bergegas menuju ke GBK, hati saya tambah berdebar-debar serasa mau bertemu pacar. Suasana jalan begitu padat saat memasuki bilangan senayan. Terlihat banyak sekali manusia beratribut merah, baik yang jalan menggerombol maupun yang berkendara, bagaikan sebuah karnaval. Setelah sempat muter-muter bingung mencari pintu masuk dan tempat parkir, tibalah kami di Kuil Sepakbola terbesar di Indonesia itu. Saya pun bergegas mengganti pakaian dengan jersey kesayangan saya...jersey INDONESIA!. Akhirnya jersey itu saya pakai di sini...setengah cita-cita saya sudah terkabul. 

Bagimu negeri jiwa raga kami.

Setelah semua siap dengan atribut masing-masing, sekarang saatnya mencari tiket pertandingan. Kami memutuskan membeli dari FJB kaskus agar lebih mudah, ( sejujurnya karena kami semua malas mengantri ). Walaupun lebih mahal, yang terpenting kami bisa mendapatkan kepastian tiket. Mulailah kami mencari si penjual. Karena sama-sama kurang tahu daerah senayan, kami sempat beberapa kali kebingungan mencari jalan menuju Istora Senayan, tempat COD dengan si penjual. Di saat mencari , tanpa sengaja kami  bertemu dengan kawan kami Heri , yang juga sudah janjian untuk nobar. Setelah hampir mengitari seluruh area stadion, Tidak berapa lama kemudian bertemu juga dengan si penjual tiket, dan lucunya si penjual pun mengaku dari Semarang..hahaha. Jauh-jauh ke Jakarta ketemunya juga orang-orang se-kampung halaman. Tiket kategori 3 sudah di tangan, jersey sudah dipakai, tapi saya merasa masih ada yang kurang. Ya...sebuah SYAL INDONESIA.  Ada barang yang saya lupa bawa waktu berangkat ke Jakarta yaitu bendera Indonesia. Saya pikir kurang afdol bernyanyi Indonesia Raya tanpa membawa atribut seperti syal ato bendera. Pada akhirnya saya putuskan untuk membeli sebuah syal Indonesia di area sekitar Stadion. Setelah semua keperluan ibadah terpenuhi maka siaplah kami memasuki Katedral Sepakbola itu. Seperti halnya orang ndeso yang belum pernah datang ke tempat baru, setiap berjalan beberapa meter kami sempatkan berpose untuk sekedar mengabadikan moment seru ini. Sampai pada akhirnya, sampailah kami di pintu masuk GBK.

Para umat berfoto di depan Katedral Sepakbola
Tiket bersejarah

Begitu masuk GBK, perasaan saya bagaikan anak kecil yang dibelikan mainan baru oleh orang tuanya. Senang..terharu..takjub..bersukur. Andai saya tidak bisa menahan rasa senang yang berlebihan tersebut, mungkin saya sudah berteriak-teriak sambil berlarian di dalam stadion..hahaha. Mata saya nanar memandang ke sekeliling bangunan indah tersebut. Saya begitu bangga Indonesia mempunyai Presiden seperti Soekarno yang membangun tempat semegah GBK. Sebagai informasi, GBK sendiri termasuk salah satu dari 15 stadion terbesar di dunia, dan baru kali ini saya masuk ke stadion yang berkapasitas sekitar 88 ribu tempat duduk itu. Kami mulai mencari tempat yang sekiranya paling nyaman untuk menonton. Seperti yang sudah saya utarakan di postingan sebelumnya, dari segi sudut pandang ke lapangan, tribun belakang gawang agak kurang begitu representatif. Akan tetapi tribun belakang gawang adalah tempat paling magis dalam stadion, dan atmosfer itu yang saya cari.

Suasana beberapa jam sebelum pertandingan
Teteeeeeeepp narsoo!

Setelah dikomandoi oleh Setyawan akhirnya kami duduk tepat sejajar di belakang gawang. Saat itu sedang berlangsung partai antara Malaysia vs Kamboja. Kapasitas stadion sudah 50 persen terisi, terlebih di tribun kami ( tribun utara ) sudah hampir terisi penuh oleh suporter.  Diantara ribuan suporter Indonesia, nampak juga beberapa ekspatriat yang menonton, lengkap dengan atribut Indonesia-nya. Pertandingan masih sekitar 2 jam lagi, tapi suasana di dalam stadion sudah begitu gemuruh. Suporter kita waktu itu meneror habis kesebelasan Malaysia yang sedang bertanding. Bahkan beberapa suporter Malaysia yang hanya segelintir di tribun VIP Barat pun tak luput dari teror suporter Indonesia. Untung bukan teror fisik yang mereka terima, dan setelah pertandingan Malaysia vs Kamboja usai, para suporter harimau Malaya pun langsung ngibrit keluar stadion karena sadar di sekitar mereka terdapat ribuan suporter garuda yang sudah mulai memadati tribun. Semakin petang stadion semakin penuh, suporter juga mulai menyanyikan chant-chant disertai tabuhan snare drums & bass drums. Tribun tepat di atas saya duduk ( kategori 4 ) terdapat beberapa kelompok suporter dari Indonesia. Ada Slemania Batavia, The Jak, Aremania,dan Pasoepati, terlihat dari banner yang mereka bawa. Dan yang membuat saya senang, tanpa 1 dirigen master pun, kami bisa bernyanyi bersama. Entah siapa yang memulai dulu, tanpa dikomando selalu diikuti suporter 1 tribun, bahkan 1 stadion.  Sampai pada akhirnya masuklah timnas U23 ke lapangan untuk pemanasan. Para suporter semakin keras berteriak IN-DO-NE-SIA!!! dan diiringi tepuk tangan. Kaki saya mulai gemetar...dan semakin gemetar ketika bendera fair play dan 2 bendera negara tim yang bertanding dibawa masuk ke lapangan oleh para anak gawang. Tanda Indonesia Raya sebentar lagi akan berkumandang.


Sesaat sebelum Indonesia Raya berkumandang
Kedua tim sudah memasuki lapangan, para wasit , asisten wasit, pengawas pertandingan juga sudah bersiap di posnya masing-masing. Seperti biasa, dalam partai tim nasional selalu diperdengarkan lagu kebangsaan masing-masing negara. Kali ini yang menjadi giliran pertama adalah lagu kebangsaan negara Thailand. Saya mulai berdiri, sedikit menenangkan hati saya yang begitu galau. Teman saya Setyawan bahkan sudah nyindir ke saya sebelum lagu kebangsaan diperdengarkan "Ojo nangis nek pas nyanyi Indonesia Raya." ( Jangan nangis waktu nyanyi Indonesia raya..).  Saya pun hanya membalas dengan senyuman. Lagu kebangsaan Thailand mulai terdengar, dan kebiasaan buruk suporter kita pun masih saja terulang..menghina lagu kebangsaan negara lain. Saya melihat sendiri bagaimana suporter di sekitar saya berteriak "boooo" waktu lagu kebangsaan Thailand dinyanyikan. Saya juga tak punya kuasa apa-apa untuk melarang mereka, saya cuma bisa diam..diam karena jantung saya yang semakin deg-degan Sampailah pada hal yang paling sakral. Puncak dari cita-cita saya datang kemari...bernyanyi Indonesia Raya. Saya mencoba bersikap tenang, menarik nafas dalam-dalam. Saya berdiri diatas bangku penonton, syal Indonesia saya angkat tinggi-tinggi. Saya lihat semua suporter melakukan hal serupa, ada yang mengangkat syal, ada yang mengangkat bendera mereka, ada yang bersikap hormat, dan memegang lambang garuda di jersey mereka. Seluruh tubuh saya mulai gemetar..dan lagu kebangsaan Indonesia raya pun mulai berkumandang.

Saya memejamkan mata dan mulai bernyanyi..."Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku..disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku.." Saya bernyanyi sekuat tenaga, benar-benar melepaskan seluruh emosi saya. Belum sampai pada setengah lagu suara saya mulai habis, tapi saya terus bernyanyi dan bernyanyi. Mata saya mulai berkaca-kaca..seluruh tubuh saya gemetar dan merinding hebat mendengar koor dari seluruh suporter. Seumur hidup baru kali ini saya menyanyikan Indonesia Raya dengan begitu emosional. Saya benar-benar merasa "Indonesia banget" saat itu. Tidak heran banyak cerita yang mengatakan menyanyikan lagu Indonesia Raya di GBK  bersama puluhan ribu orang akan terasa sangat menggetarkan. Sampai pada akhir lagu, saya melihat ke langit GBK yang mendung itu..berterimakasih pada-Nya diberi kesempatan menikmati moment ini. Moment yang tidak akan terlupa. Moment yang selalu ingin saya ulangi. Moment yang tidak saya dapatkan kala menjadi suporter layar kaca. Mungkin akan ada yang berpikir saya terlalu berlebihan ( baca : lebay ), saya memakluminya. Dan saya mengerti anda tidak akan tahu perasaan itu sampai anda sendiri yang merasakannya

Kick off pun dimulai. Pertandingan berlangsung seru dan cenderung keras, terbukti 2 kartu merah keluar dari wasit asal Korea waktu itu. Di tribun atas para kelompok suporter tak henti bernyanyi, sesekali mereka membuat mexican wave yang tersohor itu. Sampai pada gol pertama yang dicetak Titus Bonai, GBK bergetar, saya bahkan bersorak sampai kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Meski sempat disamakan oleh Thailand, Timnas U23 kita akhirnya menang dengan skor 3-1 dan memastikan diri untuk lolos ke babak semifinal. Pencapaian yang bagus, mengingat 2 tahun lalu tim U23 kita hancur dan jadi juru kunci grup. 

GBK gempa gara-gara Titus Bonai cs.
Goodbye Thailand
IN-DO-NE-SIA !!!
 
Setelah 90 menit berakhir, saya dan teman-teman masih belum beranjak dari stadion. Lagi-lagi naluri ndeso kami muncul : foto-foto, sayang kalo melewatkan sesi ini.Walaupun badan ini capek karena harus menempuh perjalanan hampir 8 jam dan menjadi gembel di stasiun, namun semua terbayar lunas dan melebihi ekspektasi saya sebelumnya. Tercapai sudah cita-cita saya malam itu. Sungguh malam yang sempurna di GBK. 
Sebuah perjalanan spiritual yang tidak akan terlupakan.
Terbanglah terus Garuda..





-Fin-
.

All photos are taken by Setyawan Eko Nugroho

Kamis, 17 November 2011

Perjalanan Spiritual Saya ke GBK ( bagian 1 )

Pagi itu tanggal 1 November 2011. Seperti biasa sebelum memulai bekerja, saya selalu mantengin timeline twitter, sambil nyampah disitu. Kemudian  ada hal menarik yang muncul di timeline saya.... jadwal laga timnas sepakbola Sea Games. Awalnya saya mengira cabang sepakbola akan dimainkan di stadion Jakabaring Palembang, ternyata pertandingan dilaksanakan di Gelora Bung Karno Senayan. Bak gayung bersambut, ada satu pertandingan yang dimainkan pada hari minggu yaitu Indonesia vs Singapura ( 13/11 ). Memang...suporter daerah macam saya ini hanya bisa menonton pertandingan pada hari libur saja karena terkendala oleh pekerjaan. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi sahabat saya di Jakarta dan bilang saya akan datang menonton partai tersebut.

Sebenarnya sudah jauh-jauh hari saya bercita-cita menonton langsung timnas Indonesia berlaga di GBK. Namun karena beberapa kendala, rencana tersebut selalu batal. Ketika berita di twitter tadi muncul, saya berkata pada diri sendiri..."saya harus berangkat!..bagaimanapun caranya."
Gelora Bung Karno bagi saya adalah sebuah tempat suci. Ya....sebuah "tempat ibadah" bagi kami para suporter sepakbola. Kalau boleh saya analogikan menurut kepercayaan saya.GBK seperti Gereja Basilika Santo Petrus di Vatikan. Dimana banyak umat Katolik di seluruh dunia ingin berkunjung ke sana untuk berziarah atau mengikuti misa hari besar seperti Paskah atau Natal. Sama halnya dengan GBK, banyak suporter ( khususnya dari luar daerah Jakarta ) yang ingin menyaksikan langsung timnas Indonesia bertanding di tempat itu. Saya sering mendengar dari teman-teman yang pernah ke sana, bagaimana atmosfernya yang begitu luar biasa. Bergabung dengan sekitar 80 ribu orang untuk mendukung para pahlawan lapangan hijau negara kita. Satu hal lagi yg membuat saya begitu ingin ke sana...bernyanyi lagu Indonesia Raya bersama dengan para pemain, pelatih, official, dan tentunya seluruh suporter yang hadir. Dan kali ini saya beruntung....akhirnya berkesempatan merasakan atmosfer tersebut.

Beberapa hari setelah itu, ada berita mengejutkan lagi. Ternyata dari pihak panitia INASOC mengajukan jadwal pertandingan sepakbola. Saya sempat khawatir, pertandingan yang tadinya jatuh hari minggu tadi akan bergeser ke hari kerja. Dan ternyata benar, partai Indonesia vs Singapura yang tadinya bermain pada hari minggu, diajukan pada hari Jumat. Tapi dengan diajukannya jadwal tersebut, malah menjadi berkah tersendiri bagi saya. Kenapa?..karena partai Indonesia vs Thailand yang sekiranya dimainkan pada hari selasa digeser menjadi hari Minggu!. Thailand merupakan salah satu musuh bebuyutan Indonesia ( selain Malaysia tentunya ). Saya ingat betul waktu  Sea Games tahun 1997 di Jakarta, timnas Indonesia yang kala itu masih diperkuat generasi emas seperti Kurniawan DY, Aji Santoso, Anang Ma'ruf, Uston Nawawi dkk harus kalah di final dari Thailand (saat itu dilatih Peter Withe) lewat adu pinalti. Padahal dari babak penyisihan timnas Indonesia begitu superior, apalagi waktu membantai Malaysia 3-0. Sekarang mungkin peta kekuatan sepakbola di Asean lebih merata, namun Thailand tetaplah Thailand. Rajanya Asia Tenggara. Dan kita ketahui belakangan ini, pertandingan Indonesia vs Thailand kemarin adalah penentuan lolos / tidaknya timnas ke Semifinal. Saya beruntung lagi !.

Mulailah saya berkoordinasi dengan sahabat-sahabat saya di Jakarta. Kami merencanakan gathering sambil nobar. Karena kami malas untuk mengantri tiket, jadilah saya memesan tiket pertandingan lewat kaskus. Walaupun agak mahal & ribet, namun paling tidak ada kepastian bahwa kami akan mendapatkan tiket pertandingan. Dipilihlah tiket kategori 3 ( tribun belakang gawang). Selain alasan tiket yang cenderung terjangkau ( harga Rp. 50.000 ), tribun di belakang gawang konon mempunyai atmosfer yang paling hebat. Silakan disimak baik di sepakbola dalam negeri maupun di luar, karena  disitulah biasanya berkumpul kelompok suporter yang paling fanatik. Walaupun mungkin dilihat dari sudut pandang penonton ke lapangan, tribun tersebut agak kurang nyaman..who cares??..yang saya cari adalah atmosfer dari pertandingan tersebut. Kalaupun pengen nonton enak, gak perlu saya jauh-jauh ke GBK, cukup jadi suporter layar kaca saja. Tiket kereta Semarang - Jakarta pp beres, akomodasi beres, tiket pertandingan beres...dan siaplah saya melakukan perjalanan spiritual sebagai suporter Indonesia ke Gelora Bung Karno..


- bersambung -


Peziarah Sepakbola



Kamis, 29 September 2011

Saya Hanya Tukang Jaga Warnet

Beberapa hari yang lalu saya mendapat telpon dari seseorang. Terdengar nada bicara yang sangat familiar di telinga saya. Ya..orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Santoso. Bekas bos saya ketika saya bekerja di warnet dulu dan percakapan kami kurang lebih seperti ini..

P.Santoso : Apa kabar valen?..lagi sibuk apa sekarang?..
Saya : Baik pak..Saya lagi di kantor ini pak..gimana kabar Pak San & warnet??..
P.Santoso : Saya Baik-baik. Tapi warnet lagi butuh tenaga ini..Aku boleh minta bantuan,cariin orang gak?..
Saya : Lho, pongpong (nama teman saya) emang sudah keluar pak??..
P.Santoso : iya, sekarang rada ribet saya ngurusnya, warnet juga mulai sepi.
Saya : oww..ya besok kalau saya ada kenalan yang pengen kerja, saya suruh hubungi bapak langsung.
P.Santoso : oke valen, makasih ya..maaf merepotkan..sukses buat kamu.
Saya : iya pak trima kasih.


Percakapan singkat yang mengingatkan saya pada sebuah warnet kecil di samping Java Mall. Sekitar pertengahan tahun 2006 saya ditawari oleh seorang teman dekat untuk bekerja sebagai OP warnet. Kebetulan waktu itu saya memang lagi mencari pekerjaan sampingan. Akhirnya saya mencoba melamar ke tempat tersebut dan diterima sebagai OP pengganti. Jam kerja saya waktu itu masih tidak tentu, karena saya bekerja jika ada salah satu OP berhalangan masuk. Setelah kira-kira 6 bulan jadi pegawai tidak tetap, saya akhirnya diangkat jadi pegawai tetap di situ. Waktu itu tanggungjawab saya hanya sebagai Operator saja. Gak berapa lama berselang, teman saya (yang bertanggungjawab penuh) pun akhirnya keluar. Bos saya pun menunjuk saya untuk menggantikan posisinya. Awalnya ada rasa ragu karena saya harus bertanggungjawab atas warnet tersebut, dari masalah legal, perekrutan pegawai, administrasi warnet, dan juga menyangkut masalah teknis. Namun toh ya akhirnya saya terima juga tanggungjawab tersebut hingga kurang lebih 4 tahun saya bekerja di situ.

Pekerjaan operator warnet memang sering dipandang sebelah mata bagi banyak orang. Saya pun mengalaminya sendiri. Bagaimana tidak, menjadi operator warnet hanya membutuhkan syarat bisa browsing dan memahami masalah jejaring sosial seperti facebook, twitter, email, dsb. Gak perlu ijasah sarjana, gak perlu psikotes gambar2 atau menghitung deret angka kraeplin, asalkan bisa internetan sudah memenuhi syarat untuk menjadi Operator. Gak heran pekerjaan tersebut dipandang sebelah mata, dan menurut saya sah-sah saja orang-orang untuk menilai seperti itu.

Saya pada waktu itu juga gak terlalu memikirkan pendapat seperti itu... yang terpenting, saya bisa cari uang disitu dengan HALAL. Memang penghasilan sebagai operator warnet tidak seberapa dibanding pekerjaan yang lain, bahkan mungkin pendapatan para OP lebih kecil daripada polisi cepek (kalo dihitung harian). Bahkan dari segi gengsi, walaupun mungkin pendapatan OP warnet sendiri sama dengan orang bagian admin di kantoran, tetap saja ada yang memandang pekerjaan OP gak lebih baik dari OB. Apapun stigma tersebut, saya tetap bersyukur pernah merasakan bekerja sebagai OP warnet. Dengan gaji yang gak seberapa waktu itu, saya sudah lepas dari uang saku orang tua. Saya masih bisa beli pulsa sendiri. Saya masih mampu membeli kado & traktir makan pacar saya waktu itu (walaupun gak sering). Saya masih bisa nabung untuk tour ke beberapa kota seperti solo, jogja, jepara. Dan juga saya masih bisa menabung untuk studi saya. Saya lebih mensyukuri hal-hal tersebut daripada sekedar memikirkan pendapat orang tadi.

Banyak juga ilmu yang saya dapatkan waktu dulu bekerja menjadi OP. Satu-satunya kelebihan OP daripada pekerjaan lain adalah kita bisa seharian penuh browsing internet sepuasnya dan gratis. Pernah juga saya mendengar ada anekdot seperti ini : pekerjaan paling enak di dunia adalah OP warnet, karena bisa internetan gratis dan dibayar :)). Kita tau internet sendiri adalah jendela dunia. Kita bisa mendapatkan informasi apa saja hanya mengakses lewat search engine dan mengetikkan suatu kata kunci di situ...dan jreng.. sebuah gudang pengetahuan muncul di hadapan anda. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Jadi OP juga mengharuskan kita untuk selalu belajar,baik masalah pada software / hardware komputer maupun hal-hal yg baru di dunia maya. Bagaimana mungkin bila ada customer bertanya lalu OPnya cuma bengong gak tahu, jelas hal itu akan mengecewakan customer kita. Yang  jelas dulu waktu saya menjadi OP, prinsip saya, paling tidak saya harus lebih tahu dari customer saya.Dari warnet itu pula saya banyak mendapat teman-teman baru dan bahkan masih dekat sampai sekarang. Seperti mantan pelanggan tetap saya Nukkie, dari dia masih berseragam SMP sampe sekarang kuliah, kita masih berteman baik. Lalu ada juga salah satu penyiar,MC kondang,pengusaha sukses,dan motivator dari semarang :)),  Mas Reza yang saya kenal juga waktu saya bekerja di warnet tsb , dan masih banyak lagi teman2 yang lainnya.

Intinya buat temen-temen yang mungkin berprofesi sebagai OP warnet (dan kebetulan baca), gak perlu merasa minder selama pekerjaan kalian itu BAIK. Kalian tidak maling kok, kalian tidak korupsi uang rakyat, kalian bukan pengemis. Manfaatkan betul privilege kalian sebagai OP. Cari ilmu sebanyak-banyaknya lewat internet. Karena berhubungan langsung dengan customer, dekatlah dengan mereka..karena siapa tahu mereka adalah link kalian menuju pekerjaan yang lebih besar. Pekerjaan saya yang sekarang pun tidak lepas dari profesi saya yang lalu, masih berkutat dengan dunia komputer, software, hardware, dan jaringan internet. Dan apa yang saya dapatkan selama 4 tahun di warnet tersebut masih berguna sampai sekarang ini.

Teman..apapun pekerjaan kalian, selama pekerjaan itu halal dan baik, tekuni dan syukuri. Siapa tahu pekerjaan tersebut adalah pondasi kita untuk menuju pekerjaan yang lebih besar. Asalkan mau berkembang pasti Tuhan akan memberi jalan. Dan saya sendiri tidak pernah malu untuk mengatakan bahwa dulunya saya hanya tukang jaga warnet.

Salam..  :)

Senin, 26 September 2011

Menjadi Diri Sendiri

What if I say I'm not like the others?
(Keep you in the dark)
What if I say I'm not just another one of your plays?
(You know they all... pretend)
You're the pretender
What if I say that I'll never surrender?


Lirik di atas adalah penggalan lagu dari Foo Fighters yang berjudul The Pretender. Yapp...seperti judul lagu tersebut, cukup banyak orang yang ingin menjadi seperti pribadi orang lain...termasuk juga saya.. :)

"wah aku pengen bergaya kaya Irfan Bachdim, biar digilai cewek-cewek.."
"wah aku pengen seperti Syahrini, biar terkenal..kan alhamdulilah yah.."
"wah aku pengen seperti Dian Sastro, biar terlihat sempurna di mata cowok-cowok."

dan lain-lain...

Sebenernya manusiawi sih dan sah-sah saja..

Saya cuman mau berbagi cerita tentang bagaimana rasanya menjadi orang lain itu dan dalam hal ini saya mencontohkan ke diri sendiri.
Pada saat tertentu, Saya ingin sekali menjadi seperti seorang kawan saya. Tiap permasalahan ditanggapi dengan "elegan". Mau disakiti atau dihina seperti apa juga dia lebih memakai pikirannya saja. Seolah-olah hanya mampir ke pikirannya lalu masa bodoh dengan hal tersebut.  Saya pikir hal tersebut bisa saya tiru,syukur-syukur saya juga bisa menjadi orang yang cuek seperti dia.

Keinginan saya tersebut secara tidak langsung telah mengaburkan dan membingungkan saya sendiri. Terlalu banyak imitasi yang saya gunakan sehingga saya tidak tahu apa yg sebenernya saya mau dan inginkan karena terpaku dengan image kawan saya tadi. Hingga pada suatu saat, saya melakukan sebuah hal bodoh karena tidak berani menjadi diri sendiri.

Jujur, sebenarnya sangat menyiksa menjadi orang lain itu. Malah kadang kita terlalu memaksa diri kita agar dapat menjadi orang lain tsb. Apalagi kalau pada akhirnya cara yang digunakan orang lain tersebut (sebenarnya) bertentangan dengan pribadi kita. Ada perasaan tidak nyaman karena hal tersebut. Lain halnya kalau kita menjadikan orang lain tersebut sebagai inspirasi / motivator terhadap diri sendiri.

Berusaha menjadi orang lain hanya membuat kita gagal untuk menjadi yang terbaik menurut versi diri sendiri. Kita sebenarnya punya cara tersendiri dalam menyikapi / memandang sesuatu. Entah menurut orang lain cara kita itu aneh, yang terpenting itu yang terbaik buat kita.

Saya berpikir, kalo bisa jadi yang terbaik menurut versi diri sendiri lalu buat apa menjadi orang lain??..Menjadi diri sendiri juga melatih kita untuk bersikap jujur, dan sejauh yang saya tahu kejujuran itu baik adanya..dan sekarang pun saya masih belajar untuk lebih berani menjadi diri sendiri.
The Best of ourselves is always good enough for this life.



"God gave you shoes to fit you..so put em on and wear em.."

Jumat, 23 September 2011

Are You In Love With Someone??..

Ketika kamu sedang bersama dengan seseorang, kamu berpura-pura mengabaikan orang itu. Tapi ketika dia tidak ada, kamu mungkin melihat sekitar untuk mencarinya. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta..

Meskipun ada orang lain yang selalu membuatmu tertawa, mata dan perhatianmu mungkin hanya untuk seseorang. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Jika kamu jauh lebih bersemangat untuk satu pesan singkat dari seseorang daripada banyak pesan yg dikirimkan orang lain. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu tidak bisa menghapus semua pesan yang ada di inbox hanya karena satu pesan dari seseorang. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu mempunyai 2 tiket untuk menonton bioskop, dan anda tidak ragu memikirkan seseorang yg spesial. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Kamu terus berkata pada diri sendiri " dia hanyalah seorang teman.." tetapi kamu tidak bisa menghindari daya tarik khusus orang itu. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu membaca tulisan ini, jika seseorang muncul dalam pikiranmu...maka kamu sedang jatuh cinta dengan orang itu. :)





Tulisan lama yang saya temukan lagi di inbox email. Tulisan ini pula yang meyakinkan perasaan saya dulu terhadap seseorang.. :)

Senin, 04 Juli 2011

Dalam keheningan..

Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.

Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan.

Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.
Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal.
Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun.
Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi.
Lelah ketika pikiran menjadi risau oleh harapan yang tidak pasti.
Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan “halo,lagi apa?…”
Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment kebersamaan.
Lelah untuk menahan keinginan untuk melihatnya..

Lelah dan lelah dan lelah..

Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..

Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.
Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya “apakah aku cukup pantas?”
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.
Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah..

Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..

Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,

lebih banyak rasa risau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.

Risau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.
Risau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Risau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan
Risau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi
Risau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi
Risau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.

Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh?

Dalam kelelahan, diam dan risau yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Pencipta atas apa yang saya alami.

Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal
Syukur ketika rasa risau merajalela tak terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan “Aku mencintaimu”
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebuah senyum.

Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas.

Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna,

Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Pencipta..

Bahwa mencintai seseorang itu seperti memanggul sebuah salib.
Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..
Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..
Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..

Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima,

Berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.

Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya.

Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin.
Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan
Dimana saya tidak berani untuk mengatakan “Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja”
Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,

Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta.

Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.

Semoga saya bisa.

Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya

Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam

Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya.

Saya sadar ini adalah sebuah salib yang harus saya pikul.

Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan

Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang teramat dalam.

Dari saya yang akan selalu mencintaimu dalam diam.

Jumat, 01 Juli 2011

Bersiap untuk hal yang tak terduga.

Berharap sesuatu yang tidak diharapkan..terdengar aneh ya?..


Dalam hidup, kita pasti mempunyai rencana. Saya adalah seseorang yang suka membuat rencana, tetapi kerap kali juga dihadapkan pada kenyataan bahwa rencana saya tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Terkadang saya tidak siap untuk sesuatu hal yang tak terduga tersebut. Ketika sudah memulai untuk membangun pondasi sebuah rumah, ada sesuatu hal tak terduga yang menghancurkannya. Rancangan rumah seindah apa pun bisa buyar. Sedih sekali rasanya....

Saya belajar untuk berusaha sabar dan menerima kalau ternyata rencana saya berbeda dengan rencana-Nya. Apalagi, ketika kehidupan membawa kita ke arah yang kurang menyenangkan. Sakit, kesedihan, kecemasan, tiba-tiba menghantui hidup kita saat itu, apa yang harus dilakukan?.
Sepertinya tidak ada cara lain selain berserah kepada-Nya. Karena Dia yang tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Saya tidak menyangkal pada kenyataannya ketika dihadapkan pada hal yang tidak diinginkan, sebagai manusia terkadang tidak sanggup atau tidak cukup kuat untuk menghadapinya. Perasaan marah, kecewa, sedih dan terkadang kita mempertanyakan apa maksud-Nya memberikan semua beban tersebut. Menjadi rendah hati dan menerima segala rencana-Nya memang tidaklah mudah, akan tetapi mau tidak mau kita harus bisa menerimanya dan ikut dalam semua perencanaan-Nya.

Kita mungkin sekali merasa kecewa, marah, merasa dipermainkan ketika menghadapi hal-hal tak terduga tersebut.  Karena tidak ada seorang pun di dunia ini merencanakan kesedihan, kedukaan, dan kegagalan dalam hidupnya. Tetapi manakala hal itu terjadi, selalu ada nilai positif dibalik peristiwa tersebut. Sekarang tantangannya, bisakah kita melihat hal-hal positif dari semua hal yang seolah negatif itu?..sulit memang..

Ada suatu hal yang pasti , dalam segala hal yang terjadi di dunia ini, Tuhan selalu membimbing kita. Saya menulis ini bukan berarti saya lebih berpengalaman menghadapi hal-hal tak terduga tersebut, melainkan sebagai pengingat saya kelak. Ketika saat itu tiba, semoga saya tetap ingat bahwa Dia mempunyai rencana yang lebih baik daripada saya. Walaupun sulit, walaupun kita akan menangis dalam kesedihan dan keputusasaan, semoga kita tidak berhenti percaya bahwa semua akan indah pada waktunya, dan segalanya juga akan indah dalam rancangan-Nya.

Aku tak pernah tahu apa rencana-Mu ya Tuhan..tetapi aku yakin itulah yang terbaik untukku.
Tuhan memberkati.

Selasa, 28 Juni 2011

You just can't do it!!..

 I don't know what we are. Sometimes I feel we're friends, sometimes I feel like a more than friends, but sometimes I feel like I'm just stranger to you.

The most things that I hate so much is you can see me right here, starring at you and talking too much about something that I hate so.
But you've not understand yet what I've done to you about these days. But I guess, it's more than not understand yet.

You just can't do it!!!...

Someday when you begin to miss me, just remember that I'm leaving because you never asked  me to stay.

Sabtu, 25 Juni 2011

Kebutuhan Pribadi

Banyak pasangan yang gagal mempertahankan hubungannya hanya karena soal sepele: pasangannya tidak sempurna. Padahal, kalau (misalnya) sang pria sempurna, apa lagi yang dapat wanita  lakukan? Di sinilah pangkal dari masalah tersebut, memandang pacaran atau pernikahan sebagai kebutuhan sosial, bukan pribadi, hanya lifestyle yang bisa dipamerkan dan menolak ketaksempurnaan.

Nobody’s perfect, tak ada orang yang sempurna. Ungkapan itu bukan hanya digunakan sebagai pepatah dalam iklan kosmetik atau judul lagu, melainkan harus dapat menjadi pandangan hidup untuk memahami kelemahan orang lain. Termasuk calon pasangan hidup.
Arti maupun realitas ungkapan nobody’s perfect ini sangat tepat untuk mengingatkan setiap manusia agar selalu bersikap wajar, apa adanya, dan menerima orang lain seadanya. Pepatah itu sangat berarti untuk menggambarkan bahwa tak ada manusia di muka bumi ini yang diciptakan sempurna. Begitu juga untuk urusan cinta.

Misalkan saja dalam memilih pasangan. Kebanyakan dari kita terlalu tinggi menetapkan kriteria calon pasangan maupun pendamping hidup. Hal utama yang harus dilihat baik-baik justru diri sendiri. Sudah seperti apa diri kita sekarang? Makin baikkah? Atau malah kian tak karuan?. Jangan menuntut orang lain sempurna jika kita tak dapat menyempurnakan diri sendiri. Misalnya saja ada seorang wanita yang menyukai seorang pemuda, tapi karena faktor fisik –yaitu ia tak tampan dan kaya, seperti pencitraan lelaki dalam sinetron, lalu usahanya untuk berkenalan atau menumbuhkan kasih sayang, dihindari bahkan ditolak. Sekarang ini banyak dari kita yang berusaha mendapatkan pasangan dengan tingkat intelejensia maupun materinya tak terpaut terlalu jauh. Memang wajar jika semua pihak menginginkan yang terbaik untuk mereka, apalagi untuk masa depan. Wajar saja jika selektif memilih pasangan, malah wajib dilakukan agar tak salah pilih dan menyesal di kemudian hari. Setiap orang pasti menginginkan pasangannya mempunyai penampilan fisik bagus, wajah yang tampan, bentuk badan atletis dan kaya. Tapi tanyakan dalam hati, apakah dia benar-benar kriteria pasanganmu? Jika hatimu menginginkan orang yang biasa saja, bersahaja, dan merasa lebih nyaman dengan itu, kenapa harus memaksakan diri dengan hal-hal seperti itu? Memiliki pacar, kekasih, suami atau istri, adalah kebutuhan pribadi, bukan kebutuhan sosial, yang menyangkut gaya hidup. Karena kebutuhan pribadi, kita lah yang paling tahu siapa yang kita inginkan. Bukan orang lain, orang tua atau teman-tetangga kita.





Intinya...semua itu dapat dikembalikan ke pertanyaan pertama: tanyakanlah pada hati kecil kita, karena hati kita lah hakim yang paling baik.

Social Icons

Featured Posts