Senin, 26 September 2011

Menjadi Diri Sendiri

What if I say I'm not like the others?
(Keep you in the dark)
What if I say I'm not just another one of your plays?
(You know they all... pretend)
You're the pretender
What if I say that I'll never surrender?


Lirik di atas adalah penggalan lagu dari Foo Fighters yang berjudul The Pretender. Yapp...seperti judul lagu tersebut, cukup banyak orang yang ingin menjadi seperti pribadi orang lain...termasuk juga saya.. :)

"wah aku pengen bergaya kaya Irfan Bachdim, biar digilai cewek-cewek.."
"wah aku pengen seperti Syahrini, biar terkenal..kan alhamdulilah yah.."
"wah aku pengen seperti Dian Sastro, biar terlihat sempurna di mata cowok-cowok."

dan lain-lain...

Sebenernya manusiawi sih dan sah-sah saja..

Saya cuman mau berbagi cerita tentang bagaimana rasanya menjadi orang lain itu dan dalam hal ini saya mencontohkan ke diri sendiri.
Pada saat tertentu, Saya ingin sekali menjadi seperti seorang kawan saya. Tiap permasalahan ditanggapi dengan "elegan". Mau disakiti atau dihina seperti apa juga dia lebih memakai pikirannya saja. Seolah-olah hanya mampir ke pikirannya lalu masa bodoh dengan hal tersebut.  Saya pikir hal tersebut bisa saya tiru,syukur-syukur saya juga bisa menjadi orang yang cuek seperti dia.

Keinginan saya tersebut secara tidak langsung telah mengaburkan dan membingungkan saya sendiri. Terlalu banyak imitasi yang saya gunakan sehingga saya tidak tahu apa yg sebenernya saya mau dan inginkan karena terpaku dengan image kawan saya tadi. Hingga pada suatu saat, saya melakukan sebuah hal bodoh karena tidak berani menjadi diri sendiri.

Jujur, sebenarnya sangat menyiksa menjadi orang lain itu. Malah kadang kita terlalu memaksa diri kita agar dapat menjadi orang lain tsb. Apalagi kalau pada akhirnya cara yang digunakan orang lain tersebut (sebenarnya) bertentangan dengan pribadi kita. Ada perasaan tidak nyaman karena hal tersebut. Lain halnya kalau kita menjadikan orang lain tersebut sebagai inspirasi / motivator terhadap diri sendiri.

Berusaha menjadi orang lain hanya membuat kita gagal untuk menjadi yang terbaik menurut versi diri sendiri. Kita sebenarnya punya cara tersendiri dalam menyikapi / memandang sesuatu. Entah menurut orang lain cara kita itu aneh, yang terpenting itu yang terbaik buat kita.

Saya berpikir, kalo bisa jadi yang terbaik menurut versi diri sendiri lalu buat apa menjadi orang lain??..Menjadi diri sendiri juga melatih kita untuk bersikap jujur, dan sejauh yang saya tahu kejujuran itu baik adanya..dan sekarang pun saya masih belajar untuk lebih berani menjadi diri sendiri.
The Best of ourselves is always good enough for this life.



"God gave you shoes to fit you..so put em on and wear em.."

Jumat, 23 September 2011

Are You In Love With Someone??..

Ketika kamu sedang bersama dengan seseorang, kamu berpura-pura mengabaikan orang itu. Tapi ketika dia tidak ada, kamu mungkin melihat sekitar untuk mencarinya. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta..

Meskipun ada orang lain yang selalu membuatmu tertawa, mata dan perhatianmu mungkin hanya untuk seseorang. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Jika kamu jauh lebih bersemangat untuk satu pesan singkat dari seseorang daripada banyak pesan yg dikirimkan orang lain. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu tidak bisa menghapus semua pesan yang ada di inbox hanya karena satu pesan dari seseorang. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu mempunyai 2 tiket untuk menonton bioskop, dan anda tidak ragu memikirkan seseorang yg spesial. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Kamu terus berkata pada diri sendiri " dia hanyalah seorang teman.." tetapi kamu tidak bisa menghindari daya tarik khusus orang itu. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu membaca tulisan ini, jika seseorang muncul dalam pikiranmu...maka kamu sedang jatuh cinta dengan orang itu. :)





Tulisan lama yang saya temukan lagi di inbox email. Tulisan ini pula yang meyakinkan perasaan saya dulu terhadap seseorang.. :)

Senin, 04 Juli 2011

Dalam keheningan..

Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.

Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan.

Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.
Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal.
Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari perasaan yang membius tanpa ampun.
Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan yang terlalu tinggi.
Lelah ketika pikiran menjadi risau oleh harapan yang tidak pasti.
Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau sebuah sapaan “halo,lagi apa?…”
Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah moment kebersamaan.
Lelah untuk menahan keinginan untuk melihatnya..

Lelah dan lelah dan lelah..

Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..

Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.
Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya “apakah aku cukup pantas?”
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.
Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah..

Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..

Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,

lebih banyak rasa risau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.

Risau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.
Risau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Risau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan
Risau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi
Risau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi
Risau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.

Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh?

Dalam kelelahan, diam dan risau yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Pencipta atas apa yang saya alami.

Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal
Syukur ketika rasa risau merajalela tak terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan “Aku mencintaimu”
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebuah senyum.

Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas.

Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna,

Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Pencipta..

Bahwa mencintai seseorang itu seperti memanggul sebuah salib.
Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..
Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..
Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..

Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima,

Berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.

Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya.

Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin.
Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan
Dimana saya tidak berani untuk mengatakan “Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja”
Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,

Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta.

Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.

Semoga saya bisa.

Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya

Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam

Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya.

Saya sadar ini adalah sebuah salib yang harus saya pikul.

Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan

Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang teramat dalam.

Dari saya yang akan selalu mencintaimu dalam diam.

Jumat, 01 Juli 2011

Bersiap untuk hal yang tak terduga.

Berharap sesuatu yang tidak diharapkan..terdengar aneh ya?..


Dalam hidup, kita pasti mempunyai rencana. Saya adalah seseorang yang suka membuat rencana, tetapi kerap kali juga dihadapkan pada kenyataan bahwa rencana saya tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Terkadang saya tidak siap untuk sesuatu hal yang tak terduga tersebut. Ketika sudah memulai untuk membangun pondasi sebuah rumah, ada sesuatu hal tak terduga yang menghancurkannya. Rancangan rumah seindah apa pun bisa buyar. Sedih sekali rasanya....

Saya belajar untuk berusaha sabar dan menerima kalau ternyata rencana saya berbeda dengan rencana-Nya. Apalagi, ketika kehidupan membawa kita ke arah yang kurang menyenangkan. Sakit, kesedihan, kecemasan, tiba-tiba menghantui hidup kita saat itu, apa yang harus dilakukan?.
Sepertinya tidak ada cara lain selain berserah kepada-Nya. Karena Dia yang tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Saya tidak menyangkal pada kenyataannya ketika dihadapkan pada hal yang tidak diinginkan, sebagai manusia terkadang tidak sanggup atau tidak cukup kuat untuk menghadapinya. Perasaan marah, kecewa, sedih dan terkadang kita mempertanyakan apa maksud-Nya memberikan semua beban tersebut. Menjadi rendah hati dan menerima segala rencana-Nya memang tidaklah mudah, akan tetapi mau tidak mau kita harus bisa menerimanya dan ikut dalam semua perencanaan-Nya.

Kita mungkin sekali merasa kecewa, marah, merasa dipermainkan ketika menghadapi hal-hal tak terduga tersebut.  Karena tidak ada seorang pun di dunia ini merencanakan kesedihan, kedukaan, dan kegagalan dalam hidupnya. Tetapi manakala hal itu terjadi, selalu ada nilai positif dibalik peristiwa tersebut. Sekarang tantangannya, bisakah kita melihat hal-hal positif dari semua hal yang seolah negatif itu?..sulit memang..

Ada suatu hal yang pasti , dalam segala hal yang terjadi di dunia ini, Tuhan selalu membimbing kita. Saya menulis ini bukan berarti saya lebih berpengalaman menghadapi hal-hal tak terduga tersebut, melainkan sebagai pengingat saya kelak. Ketika saat itu tiba, semoga saya tetap ingat bahwa Dia mempunyai rencana yang lebih baik daripada saya. Walaupun sulit, walaupun kita akan menangis dalam kesedihan dan keputusasaan, semoga kita tidak berhenti percaya bahwa semua akan indah pada waktunya, dan segalanya juga akan indah dalam rancangan-Nya.

Aku tak pernah tahu apa rencana-Mu ya Tuhan..tetapi aku yakin itulah yang terbaik untukku.
Tuhan memberkati.

Social Icons

Featured Posts