Selasa, 26 Juni 2012

Negeri Di Awan

Gunung Merapi


Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lokasinya diapit oleh kota Klaten, Magelang, Boyolali, dan Sleman ( DIY ). Gunung ini tergolong berbahaya karena mengalami fase erupsi tiap 4 tahun sekali. Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk mendaki ke gunung ini bersama dengan beberapa teman-teman PRMK FT UNDIP. Awalnya agak ragu untuk ikut dalam pendakian, karena tidak ada persiapan apapun, terlebih fisik. Namun setelah diprovokatori oleh seorang teman, saya akhirnya tertantang untuk bergabung hehe. Berkumpulah 8 orang kurang kerjaan : Saya, Tiok, Sasongko, Chris, Gabriel, Marcel, Yohan,dan Vincent. Kami berangkat dari Semarang sekitar pukul 07.00 WIB setelah molor dari rencana awal pukul 05.00 WIB (--"). Pendakian kali ini kami menggunakan jalur dari arah Selo Boyolali. Dalam perjalanan sempat terjadi masalah ketika salah satu motor teman saya rantainya terlepas. Alhasil harus menunggu kurang lebih 1 jam untuk kembali melanjutkan perjalanan. Rencana awal, kami memulai pendakian dari beskem merapi pukul 13.00 WIB, dan direncanakan mendirikan tenda di daerah Watu Gajah sekitar pukul 18.00WIB. Namun dengan waktu yang molor pada waktu pemberangkatan, ditambah masalah di perjalanan tadi, jadilah kami start pendakian pada jam 15.00 WIB. Setelah mengisi perut , melakukan sedikit peregangan di otot dan berdoa bersama, mulailah perjalanan saya dan teman-teman mendaki 2930 m dpl.

Sasongko, Chris, Saya, Gabriel, Vincent, Yohan, Tiok, Marcel

Tas Carier saya memang lebih kecil dan lebih ringan daripada teman-teman yang lain, tapi jangan salah, justru malah saya yang sering tertinggal dari mereka hahaha. Nafas setengah tua ini sudah jauh tertinggal dari yang muda-muda. Alhasil beberapa kali saya sempat meminta istirahat barang 1 menit atau 2 menit untuk mengumpulkan tenaga lagi. Jalur pendakian awal, dari New Selo ke Pos 1 berupa perkebunan, tegalan, dan juga melewati hutan pinus. Jalur pendakian Selo ini merupakan jalur yang sering dipakai para pendaki karena jalur ini relatif pendek dan aman. Udara yang sejuk dan masih "perawan" begitu nikmat merasuki setiap rongga yang ada di jantung dan paru-paru. Sungguh jarang sekali kami temukan di daerah perkotaan. Kira-kira setelah menempuh jarak sekitar 1,5 jam, kami pun tiba di pos 1. Waktu itu kira-kira pukul 17.00 WIB, terlihat sang surya sudah bergerak tenggelam ke arah barat. Menikmati sunset dari Pos 1 terasa begitu indah, dengan pemandangan sebelah selatan kami Gunung Merapi dan sebelah utaranya Gunung Merbabu. Belum lagi mata dimanjakan oleh warna hijau yang terhampar layaknya permadani di sekitar lereng merapi. 
Senja dari Pos 1 Merapi
Setelah beristirahat dan bernarsis ria selama kurang lebih 30 menit, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 atau Watu gajah. Medan mulai menantang, berisi bebatuan dan tingkat kemiringan yg lebih ekstrim. Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 menuntut tingkat waspada yg ekstra. Kami berdelapan pun saling menjaga satu sama lain. Udara semakin dingin, langit mulai gelap, namun kami tetap berjalan, memanjat, sesekali merangkak agar cepat sampai ke watu gajah dan mendirikan tenda. Akhirnya setelah kira-kira 1 jam perjalanan, sampailah kami di Watu gajah. Dinamakan watu gajah karena di tempat tersebut terdapat batu yang besar. Tempat yang representatif untuk mendirikan tenda karena permukaannya yang rata, walaupun cuma muat untuk 4 tenda kecil. Sesampainya di watu gajah, kami bergegas untuk mendirikan tenda, karena udara sudah semakin dingin. Setelah tenda berdiri, tiba saatnya untuk makan malam. Walaupun cuma berbekal mie instan , suasana yang tercipta begitu hangat, mie instan pun begitu terasa nikmat hahaha. Perut sudah terisi, kami berdelapan pun masuk ke tenda untuk berlindung dari terpaan hawa dingin. Akhirnya ada ide untuk berdoa rosario di dalam tenda. Ya..mungkin salah satu motivasi saya ikut pendakian ini juga, bisa berdoa rosario di gunung. Suasana begitu khusyuk, terasa menyatu sekali dengan alam. Mengucapkan syukur kepada-NYa atas segala ciptaan yang diberikan kepada kami. Selesai berdoa saya, christoper, dan Gabriel keluar tenda mebuat kopi untuk sekedar menghangatkan badan. Sisanya lebih memilih berada di dalam tenda. Tenda yang sekiranya hanya muat untuk 4 orang, diisi 8 orang hahaha. Walaupun posisi tidur kami kurang nyaman, setidaknya di dalam tenda lebih hangat daripada harus tidur di luar.  Setelah menyetel alarm pukul 02.00 dini hari, kamipun bergegas tidur.

Alarm berbunyi tepat pada jam 02.00. Sebagian sudah bangun dan sebagian lagi masih tertidur pulas. Saya merasakkan rasa nyeri di bagian paha, mungkin karena kaget lama gak jalan jauh, ditambah posisi tidur yang memang kurang begitu nyaman. Pada awalnya kami agak malas-malasan keluar, karena angin begitu kencang. Udara diluar pun ada sekitar 15 drajat celcius. Namun keinginan melihat sunrise dari puncak Merapi kembali mengumpulkan niat kami. Saya sendiri akhirnya memakai 2 rangkap baju dan jaket demi menjaga suhu tubuh. Setelah ngopi-ngopi dan mempersiapkan 1 carier berisi perbekalan, tepat jam 03.30 kami berangkat menuju puncak merapi. Di sepanjang jalan kami banyak melihat tenda pendaki-pendaki lain, dan sepertinya mereka masih terlelap dalam mimpinya. Kurang lebih 40 menit perjalanan, sampailah kami di Pasar Bubrah. Pasar Bubrah adalah tempat semacam lapangan besar yang berisi material bebatuan yang berasal dari muntahan gunung Merapi waktu meletus. Ada yang menyebut Pasar Bubrah ini sebagai kawah mati, adapula yang menyebutnya Pasar Setan..hehee. Di Pasar Bubrah banyak sekali para pendaki yang mendirikan tenda. Ketika kami datang, sapaan selamat pagi terdengar dari para pendaki tersebut. Walaupun kita tidak saling mengenal, ada semacam ikatan diantara kami...halah bahasane. Setelah beberapa kali saling bertegur sapa, kamipun melanjutkan perjalanan ke puncak, dan inilah medan yang terberat dari semua medan yang sudah kami lewati. Medan berupa batuan labil dan pasir, benar-benar dibutuhkan langkah yang sangat hati-hati. 

Sesaat sebelum naik, kami sempat menikmati indahnya langit yang bertabur ribuan bintang. Baru kali ini saya melihat jumlah bintang yang sebegitu banyaknya. Tak jarang terlihat bintang jatuh ada di sela-sela ribuan bintang tersebut. Momen ini pun kami manfaatkan untuk mengucapkan beberapa permohonan, siapa tau keinginan dari kami terkabul ( musyrik mode: ON ). Sungguh suatu anugerah yang tek ternilai.. PRICELESS!!.. Perasaan saya begitu damai, hilang semua rasa capek selama perjalanan. Tak henti-hentinya kami berdelapan mengucap syukur atas karunia itu. Diberi kesempatan bisa sampai di tempat itu sudah sebuah nikmat yang tak terhingga. Setelah kami puas memandangi bintang di langit kami harus melanjutkan perjalanan. Perjalanan ke puncak dipimpin oleh Christoper, dan Tiok sebagai penjaga kami di belakang. Dari kami berdelapan, yang pernah ke Merapi memang cuma Christoper dan Tiok. Dimulailah perjalanan menuju puncak. Langkah demi langkah kami tempuh, sampai pada beberapa meter menuju puncak. Sebuah tebing menghentikan langkah Christoper yang waktu itu jadi pembuka jalan. Perjalanan kami pun berhenti sejenak sambil menunggu jalur dari Christoper. Belum juga menemukan jalur yang aman, ada salah satu teman ( sebut saja Gabriel ) tiba-tiba sudah berdiri di tebing, tinggal ada sekitar 5-8 meter sampai puncak. Dia terjebak diantara tebing. Mau naik gak bisa, turun pun susah. Kami benar-benar panik waktu itu. 

Sunrise dari puncak Merapi
Masih dalam suasana panik, Sang surya mulai muncul perlahan dari garis horison. Kami pun pada akhirnya menikmati sunrise dari tempat kami berpijak. Bisa saya bilang menikmati sunrise dari atas gunung lebih indah daripada menikmati sunrise dari laut. Perlahan sinar mentari menyentuh hangat ke pipi, semakin naik dan terus naik. Sampai pada akhirnya kami tersadar, masih ada teman kami yang terjebak di atas.  Tiok sebagai kepala suku menganjurkan untuk segera turun, takut kalau asap belerang akan naik. Setelah beberapa saat gabriel pun bisa turun dari tempat dimana dia naik ke tebing tersebut. Beda naik, beda pula ketika turun. Ketika kita naik, kita merangkak dan ketika turun kita meluncur ( mengarah ke perosotan ). Saya memang sedikit bermasalah dalam hal "ketinggian".. melihat ke bawah sudah bikin lutut saya lemas, karena tidak mau ambil resiko, akhirnya saya turun layaknya anak kecil mainan prosotan.

Puji Tuhan kami sampai di pasar Bubrah tanpa kekurangan suatu apapun. Karena tidak sempat bernarsis ria waktu di atas, kami gunakan momen di Pasar Bubrah ini untuk berto-foto. Waktu menunjukkan sekitar pukul 08.00 , kami bergegas kembali ke tenda untuk beberes dan turun gunung. Setelah sempat mengisi perut dan membereskan tenda, akhirnya kami turun dari watu Gajah sekitar pukul 10.30. Perjalanan turun sangat berbeda jauh ketika kami naik ( yaiyalahhh menurut nganaaaaa??.. ). Kami hanya membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di New Selo. Setelah sampai di New selo kami bergegas menuju beskem barameru dan pulang menuju ke Semarang. Tepat pukul 18.00 saya tiba di beskem PRMK FT dengan badan kucel, kaki pegel-pegel dan lecet, mata ngantuk dan perut lapar!. Namun kalau dibandingkan dengan perjalanan dan dinamika kami selama 2 hari 1 malam, itu gak berarti apa-apa. Rasa capek tidak sebanding dengan kenikmatan atas indahnya karya sang Pencipta yang telah dianugerahkan pada kita. Tentu saja kita patut bersyukur, dan menjaga keutuhan ciptaan-Nya. Terima kasih masih diberi kesempatan menikmati agungnya ciptaan-Mu. Rasanya ingin sekali menikmati suasana itu lagi..suasana layaknya berada di sebuah Negeri di atas Awan. 

 
Senyum kepuasan




Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana. ( Katon Bagaskara )

Negeri di awan


Social Icons

Featured Posts