| Gunung Merapi |
Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lokasinya diapit oleh kota Klaten, Magelang, Boyolali, dan Sleman ( DIY ). Gunung ini tergolong berbahaya karena mengalami fase erupsi tiap 4 tahun sekali. Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk mendaki ke gunung ini bersama dengan beberapa teman-teman PRMK FT UNDIP. Awalnya agak ragu untuk ikut dalam pendakian, karena tidak ada persiapan apapun, terlebih fisik. Namun setelah diprovokatori oleh seorang teman, saya akhirnya tertantang untuk bergabung hehe. Berkumpulah 8 orang kurang kerjaan : Saya, Tiok, Sasongko, Chris, Gabriel, Marcel, Yohan,dan Vincent. Kami berangkat dari Semarang sekitar pukul 07.00 WIB setelah molor dari rencana awal pukul 05.00 WIB (--"). Pendakian kali ini kami menggunakan jalur dari arah Selo Boyolali. Dalam perjalanan sempat terjadi masalah ketika salah satu motor teman saya rantainya terlepas. Alhasil harus menunggu kurang lebih 1 jam untuk kembali melanjutkan perjalanan. Rencana awal, kami memulai pendakian dari beskem merapi pukul 13.00 WIB, dan direncanakan mendirikan tenda di daerah Watu Gajah sekitar pukul 18.00WIB. Namun dengan waktu yang molor pada waktu pemberangkatan, ditambah masalah di perjalanan tadi, jadilah kami start pendakian pada jam 15.00 WIB. Setelah mengisi perut , melakukan sedikit peregangan di otot dan berdoa bersama, mulailah perjalanan saya dan teman-teman mendaki 2930 m dpl.
![]() |
| Sasongko, Chris, Saya, Gabriel, Vincent, Yohan, Tiok, Marcel |
Tas Carier saya
memang lebih kecil dan lebih ringan daripada teman-teman yang lain, tapi jangan
salah, justru malah saya yang sering tertinggal dari mereka hahaha. Nafas
setengah tua ini sudah jauh tertinggal dari yang muda-muda. Alhasil beberapa
kali saya sempat meminta istirahat barang 1 menit atau 2 menit untuk
mengumpulkan tenaga lagi. Jalur pendakian awal, dari New Selo ke Pos 1 berupa
perkebunan, tegalan, dan juga melewati hutan pinus. Jalur pendakian Selo ini
merupakan jalur yang sering dipakai para pendaki karena jalur ini relatif
pendek dan aman. Udara yang sejuk dan masih "perawan" begitu nikmat
merasuki setiap rongga yang ada di jantung dan paru-paru. Sungguh jarang sekali
kami temukan di daerah perkotaan. Kira-kira setelah menempuh jarak sekitar 1,5
jam, kami pun tiba di pos 1. Waktu itu kira-kira pukul 17.00 WIB, terlihat sang
surya sudah bergerak tenggelam ke arah barat. Menikmati sunset dari Pos 1
terasa begitu indah, dengan pemandangan sebelah selatan kami Gunung Merapi dan
sebelah utaranya Gunung Merbabu. Belum lagi mata dimanjakan oleh warna hijau
yang terhampar layaknya permadani di sekitar lereng merapi.
![]() |
| Senja dari Pos 1 Merapi |
Setelah
beristirahat dan bernarsis ria selama kurang lebih 30 menit, kami melanjutkan
perjalanan menuju Pos 2 atau Watu gajah. Medan mulai menantang, berisi bebatuan
dan tingkat kemiringan yg lebih ekstrim. Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2
menuntut tingkat waspada yg ekstra. Kami berdelapan pun saling menjaga satu
sama lain. Udara semakin dingin, langit mulai gelap, namun kami tetap berjalan,
memanjat, sesekali merangkak agar cepat sampai ke watu gajah dan mendirikan
tenda. Akhirnya setelah kira-kira 1 jam perjalanan, sampailah kami di Watu
gajah. Dinamakan watu gajah karena di tempat tersebut terdapat batu yang besar.
Tempat yang representatif untuk mendirikan tenda karena permukaannya yang rata,
walaupun cuma muat untuk 4 tenda kecil. Sesampainya di watu gajah, kami
bergegas untuk mendirikan tenda, karena udara sudah semakin dingin. Setelah
tenda berdiri, tiba saatnya untuk makan malam. Walaupun cuma berbekal mie
instan , suasana yang tercipta begitu hangat, mie instan pun begitu terasa
nikmat hahaha. Perut sudah terisi, kami berdelapan pun masuk ke tenda untuk
berlindung dari terpaan hawa dingin. Akhirnya ada ide untuk berdoa rosario di
dalam tenda. Ya..mungkin salah satu motivasi saya ikut pendakian ini juga, bisa
berdoa rosario di gunung. Suasana begitu khusyuk, terasa menyatu sekali dengan
alam. Mengucapkan syukur kepada-NYa atas segala ciptaan yang diberikan kepada
kami. Selesai berdoa saya, christoper, dan Gabriel keluar tenda mebuat kopi
untuk sekedar menghangatkan badan. Sisanya lebih memilih berada di dalam tenda.
Tenda yang sekiranya hanya muat untuk 4 orang, diisi 8 orang hahaha. Walaupun
posisi tidur kami kurang nyaman, setidaknya di dalam tenda lebih hangat
daripada harus tidur di luar. Setelah
menyetel alarm pukul 02.00 dini hari, kamipun bergegas tidur.
Alarm berbunyi
tepat pada jam 02.00. Sebagian sudah bangun dan sebagian lagi masih tertidur
pulas. Saya merasakkan rasa nyeri di bagian paha, mungkin karena kaget lama gak
jalan jauh, ditambah posisi tidur yang memang kurang begitu nyaman. Pada
awalnya kami agak malas-malasan keluar, karena angin begitu kencang. Udara
diluar pun ada sekitar 15 drajat celcius. Namun keinginan melihat sunrise dari
puncak Merapi kembali mengumpulkan niat kami. Saya sendiri akhirnya memakai 2
rangkap baju dan jaket demi menjaga suhu tubuh. Setelah ngopi-ngopi dan
mempersiapkan 1 carier berisi perbekalan, tepat jam 03.30 kami berangkat menuju
puncak merapi. Di sepanjang jalan kami banyak melihat tenda pendaki-pendaki
lain, dan sepertinya mereka masih terlelap dalam mimpinya. Kurang lebih 40
menit perjalanan, sampailah kami di Pasar Bubrah. Pasar Bubrah adalah tempat
semacam lapangan besar yang berisi material bebatuan yang berasal dari muntahan
gunung Merapi waktu meletus. Ada yang menyebut Pasar Bubrah ini sebagai kawah
mati, adapula yang menyebutnya Pasar Setan..hehee. Di Pasar Bubrah banyak
sekali para pendaki yang mendirikan tenda. Ketika kami datang, sapaan selamat
pagi terdengar dari para pendaki tersebut. Walaupun kita tidak saling mengenal,
ada semacam ikatan diantara kami...halah bahasane. Setelah beberapa kali saling
bertegur sapa, kamipun melanjutkan perjalanan ke puncak, dan inilah medan yang
terberat dari semua medan yang sudah kami lewati. Medan berupa batuan labil dan
pasir, benar-benar dibutuhkan langkah yang sangat hati-hati.
Sesaat sebelum naik, kami sempat menikmati
indahnya langit yang bertabur ribuan bintang. Baru kali ini saya melihat jumlah
bintang yang sebegitu banyaknya. Tak jarang terlihat bintang jatuh ada di
sela-sela ribuan bintang tersebut. Momen ini pun kami manfaatkan untuk
mengucapkan beberapa permohonan, siapa tau keinginan dari kami terkabul (
musyrik mode: ON ). Sungguh suatu anugerah yang tek ternilai.. PRICELESS!!..
Perasaan saya begitu damai, hilang semua rasa capek selama perjalanan. Tak
henti-hentinya kami berdelapan mengucap syukur atas karunia itu. Diberi
kesempatan bisa sampai di tempat itu sudah sebuah nikmat yang tak terhingga.
Setelah kami puas memandangi bintang di langit kami harus melanjutkan
perjalanan. Perjalanan ke puncak dipimpin oleh Christoper, dan Tiok sebagai
penjaga kami di belakang. Dari kami berdelapan, yang pernah ke Merapi memang
cuma Christoper dan Tiok. Dimulailah perjalanan menuju puncak. Langkah demi
langkah kami tempuh, sampai pada beberapa meter menuju puncak. Sebuah tebing
menghentikan langkah Christoper yang waktu itu jadi pembuka jalan. Perjalanan
kami pun berhenti sejenak sambil menunggu jalur dari Christoper. Belum juga
menemukan jalur yang aman, ada salah satu teman ( sebut saja Gabriel )
tiba-tiba sudah berdiri di tebing, tinggal ada sekitar 5-8 meter sampai puncak.
Dia terjebak diantara tebing. Mau naik gak bisa, turun pun susah. Kami benar-benar
panik waktu itu.
![]() |
| Sunrise dari puncak Merapi |
Masih dalam suasana panik, Sang surya mulai muncul perlahan
dari garis horison. Kami pun pada akhirnya menikmati sunrise dari tempat kami
berpijak. Bisa saya bilang menikmati sunrise dari atas gunung lebih indah
daripada menikmati sunrise dari laut. Perlahan sinar mentari menyentuh hangat
ke pipi, semakin naik dan terus naik. Sampai pada akhirnya kami tersadar, masih
ada teman kami yang terjebak di atas.
Tiok sebagai kepala suku menganjurkan untuk segera turun, takut
kalau asap belerang akan naik. Setelah beberapa saat gabriel pun bisa turun
dari tempat dimana dia naik ke tebing tersebut. Beda naik, beda pula ketika
turun. Ketika kita naik, kita merangkak dan ketika turun kita meluncur (
mengarah ke perosotan ). Saya memang sedikit bermasalah dalam hal
"ketinggian".. melihat ke bawah sudah bikin lutut saya lemas, karena
tidak mau ambil resiko, akhirnya saya turun layaknya anak kecil mainan prosotan.
Puji Tuhan kami
sampai di pasar Bubrah tanpa kekurangan suatu apapun. Karena tidak sempat
bernarsis ria waktu di atas, kami gunakan momen di Pasar Bubrah ini untuk
berto-foto. Waktu menunjukkan sekitar pukul 08.00 , kami bergegas kembali ke
tenda untuk beberes dan turun gunung. Setelah sempat mengisi perut dan
membereskan tenda, akhirnya kami turun dari watu Gajah sekitar pukul 10.30.
Perjalanan turun sangat berbeda jauh ketika kami naik ( yaiyalahhh menurut
nganaaaaa??.. ). Kami hanya membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di New Selo.
Setelah sampai di New selo kami bergegas menuju beskem barameru dan pulang
menuju ke Semarang. Tepat pukul 18.00 saya tiba di beskem PRMK FT dengan badan
kucel, kaki pegel-pegel dan lecet, mata ngantuk dan perut lapar!. Namun kalau
dibandingkan dengan perjalanan dan dinamika kami selama 2 hari 1 malam, itu gak
berarti apa-apa. Rasa capek tidak sebanding dengan kenikmatan atas indahnya karya sang
Pencipta yang telah dianugerahkan pada kita. Tentu saja kita patut bersyukur,
dan menjaga keutuhan ciptaan-Nya. Terima kasih masih diberi kesempatan
menikmati agungnya ciptaan-Mu. Rasanya ingin sekali menikmati suasana itu
lagi..suasana layaknya berada di sebuah Negeri di atas Awan.
| Senyum kepuasan |
Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana. ( Katon Bagaskara )
| Negeri di awan |





0 komentar:
Posting Komentar